26.4.21

#dapuribuanggun

Saya suka memasak, meski enggak jago-jago amat. Sejauh bisa mengingat, pengalaman pertama saya dalam memasak adalah ketika memberi hadiah ulang tahun berupa bekal makan siang hasil masakan sendiri untuk seorang teman jaman kuliah tingkat dua dulu. Bekalnya berisi nasi, ayam goreng, dan sayur asem. Lengkap sekali,  bukan? 

Padahal sejujurnya, memasak yang saya maksud kala itu adalah menggoreng ayam yang sebelumnya sudah diungkep oleh Mamah dan memasak sayur asem yang bumbunya pun sudah diulek oleh Mamah ... hahaha. Meski saya sih tetap ngakunya masakan hasil sendiri, demi gengsi.

Mamah saya jago memasak. Beliau adalah lulusan SKKA (SMK pada jamannya) jurusan tata boga. Sayangnya, anak-anaknya jarang diajak terlibat dalam kegiatan di dapur. Setelah memiliki anak, saya bisa paham sih alasannya. Keonaran yang dihasilkan memang cukup lumayan ketika mengajak anak ikut memasak. 

Saya pun akhirnya baru benar-benar terjun ke dapur menjelang menikah. Alhamdulillah, teman yang dulu dihadiahi masakan tadi akhirnya menjadi teman hidup yang bisa saya masakin setiap hari. Alhamdulillah,  beliau juga tidak protes saat tahu sayur asem buatan saya ternyata tidak senikmat "masakan saya" dahulu ... hahaha.

Iya,  motivasi memasak itu akhirnya terbit setelah menikah, ditambah suami pun meminta kesediaan saya untuk menjadi ibu rumah tangga saja.  Memasak menjadi salah satu aktivitas seru yang bisa saya lakukan sehari-hari.

Namun, keinginan memasak itu terbenam perlahan seiring munculnya rasa mual di trimester awal kehamilan. Mencium bau bawang rasanya ingin muntah.  Akhirnya, saya pun absen cukup lama dari urusan perdapuran.

Motivasi itu bangkit kembali ketika anak memasuki usia mengonsumsi MPASI. Berbagai resep, saya coba. Berbagai komunitas memasak, saya ikuti.

Saat itu, media sosial pun mulai ramai.  Buat saya yang ekstrovert, tinggal di rantau, dan berkegiatan di rumah saja,  media sosial ini bisa menemani dan mengisi hari-hari. Selain untuk mencari ide resep masakan,  media sosial pun saya manfaatkan untuk berbagi hasil kreasi saya di dapur. Sampai akhirnya dengan sedikit tak tahu malu,  saya pun membuat tagar #dapuribuanggun.

Kesannya seperti chef  profesional,  padahal amatiran. Biasanya saya hanya berbagi resep mudah. Ya, lagipula kalau sulit, niscaya saya pun malas membuatnya.  Memasak lontong dengan rice cooker, cara cepat membuat jasuke, atau tips kilat mendapatkan chili oil adalah sedikit yang saya bagi di sana. Salah satu jalan untuk menyalurkan hobi menulis juga karena biasanya tak hanya resep yang saya bagi, tapi juga cerita di baliknya. 

Selama hampir sembilan tahun, #dapuribuanggun ini mengisi hari-hari saya. Meski kadang tagar ini hilang juga dari peredaran di dunia maya, biasanya kalau saya sedang malas masak atau lagi kepikiran, "nanaonan sih Nggun, kikieuan,  meni hayang eksis wae." ... hahaha.

Namun, ternyata menyenangkan ketika ada yang memberi komentar, "Gun,  ko udah lama ga posting resep sih,  aku suka ngikutin loh.". Wah,  ternyata dirindukan. 

Bahagia juga saat akhirnya berbagi resep dan ada yang berkomentar, "Wah pas banget, lagi cari resep ini. Mau buat ah,  kayanya gampang ya. Nuhun, gun."

Iya, bahagia ternyata bisa sesederhana itu, ketika mengetahui hal kecil yang kita lakukan bisa bermanfaat untuk orang lain. Saat itu, saya pun merasa menjadi seorang perempuan yang berdaya.

Alhamdulillah. 


Beberapa hasil karya di #dapuribuanggun



Tidak ada komentar:

Posting Komentar