15.1.19

Hari akhir

Bulan lalu kami mampir ke toko buku. Ibu ijinin teteh yang lagi doyan banget baca buat milih satu untuk dibeli (karena abi baru gajian hahaha).

Akhirnya malah teteh yang minta ibu aja yang milihin. Terus liat "why", jadi teringat beberapa teman yang anak-anaknya pada doyan baca ini. Ibu tanya teteh mau ga .. "boleh" katanya.

Ada beberapa judul. Kami pilih yang "natural disaster". Karena akhir-akhir ini banyak banget kan yaa kejadian bencana alam. Harapannya dia melek informasi tentang fenomena alam di baliknya.

Beres transaksi di kasir, abi nanya, "jadi ya beli buku yang tadi".

"Iya.. belum punya soalnya yang tentang bencana alam"

"Tadinya mau ngasi tau, tapi da udah keburu dibeli. Diingetin aja ya bu (ke anaknya). Apapun yang kejadian ada takdir Alloh dibaliknya. Masuk aqidah soalnya itu."

JLEB!

Sungguh ku tak kepikiran kadinya.

Di balik hasrat mamak yang ingin anaknya intelek, fasih tentang sains.. harusnya tauhid jadi yang utama.

Baiklah.. ibu akan berusaha baca bareng nanti dan cari momen buat ngobrol.

Tapi biasa lah yaa.. mamak (sok) sibuk.. sebelum bisa baca bareng, anaknya udah mau khatam duluan.

Sampai akhirnya suatu malam ketika ibu nyetrika di kamar nak anak sambil nemenin mereka yang mau tidur. Teteh tiba tiba berkata..

"Bu.." 

"Hmm" 

"Aku baca buku yang bencana alam tuh suka agak merinding tau bu" 

Waaaah aha moment nih!!

"Takut ya teh?" 

"Iya.. kaya kiamat ya bu?"

"Iyaa.. bencana alam tuh bisa juga dibilang kiamat kecil. Takut kejadian ama kita ya?"

"Hehe iyaa"

"Hmm .. sebenernya yaa teh bencana alam tuh Alloh yang atur. Mau ada lempengan bumi bergeser juga kalo kata Alloh ga akan kejadian gempa mah ga akan ada gempa.. ga akan ada tsunami."

"..."

"Tapi kalo emang kejadian, ya itu takdir Alloh juga. Kapan, dimana, siapa aja yg meninggal, yang selamat, Alloh yang tentuin.

Jadi pengingat buat kita juga. Biar makin soleh. Da harusnya mah orang soleh mah ga usah takut.. Alloh sebaik baik penjaga. Kalo rajin solat, ngaji, beribadah.. insyaAlloh Alloh jagain.

Tapiii kalo emang takdirnya untuk meninggal, kan udah bawa bekal banyak juga.. amal soleh."

"Iya yaa."

Masih ada nada khawatir di suaranya. Akhirnya malam itu ibu usap kepalanya dan peluk. Semoga teteh bisa tenang bobonya.

Buku itu masih jadi kesukaannya selama beberapa lama. Kadang kadang masih suka merinding katanya. Tapi angger dibaca berkali - kali. Berkali - kali juga ibu diceritakan kembali tentang isi di dalam bukunya.. tahun berapa ada kejadian dimana, berapa yang meninggal berapa yang selamat. Khas thifa, kalo baca, detil.


... lalu alhamdulillah, Alloh mudahkan pemahaman tentang hal ini untuk teteh (dan ibu abi) lewat dauroh yang kami ikuti awal tahun kemarin.

Salah satu kajiannya membahas tentang hari akhir.

Kala itu kajian kedua, bada dzuhur, beres makan, adel tidur, kaka main dengan temannya di teras masjid. Teteh memilih duduk di samping ibu, ikut mendengarkan kajian.

Awalnya tertarik karena ustadznya membahas surat al qoriah dan  al haqqoh, nama lain  hari kiamat, yang mana telah dia hafal.

Dahinya kerung ketika ustadz menerangkan tentang beberapa kronologis hari akhir. Bahkan beberapa kali matanya sedikit berair. Persis ketika dia baca buku yang diceritakan sebelumnya.

Tapi kemudian matanya berbinar lagi ketika ada sesi pembagian hadiah buat yang bisa jawab pertanyaan hahaha.. mental gratisannya kek ibu, doi pgn ikutan.

Sayangnya meski ngacung, dia ga kepilih buat jawab.

Masuk sesi pertanyaan dari peserta. Ada seorang guru paud yang bertanya. Pertanyaannya bagus sekali. Bagaimana menerangkan tentang hari akhir kepada anak usia dini?

Kurang lebih begini jawaban ustadznya (kalo ada kekurangan itu khilafnya ibu yaa yg mungkin krg pandai menuliskan kembali) :

Tentang hari akhir ini, hancurnya bumi dan alam semesta, wajib diceritakan kepada anak anak. Karena ini menyangkut tauhid. Rukun iman yang kelima, iman kepada hari akhir.

Mungkin akan menimbulkan kekhawatiran nantinya. Tapi akan menumbuhkan sikap waspada juga. Dan itu baik. Sehingga mereka terpacu untuk menyiapkan bekal.

Namun mereka pun perlu diberi harapan. Bahwa setiap mukmin, orang yang beriman kepada Alloh, itu tidak akan merasakan dahsyatnya hari kiamat. Alloh sudah selamatkan.

Sesuai dengan hadits :

Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan keadaan orang-orang yang beriman hingga akhir zaman. Kemudian beliau bersabda

".. kemudian Allah mengirim angin, seperti semerbak minyak wangi, sangat lembut rasanya seperti menyentuh sutera. Tidak ada satupun jiwa yang di dalam hatinya terselip iman sebesar biji, kecuali angin itu akan mematikannya. Kemudian tinggal tersisa manusia-manusia paling jelek. Di tengah merekalah, kiamat terjadi.
(HR. MUSLIM)

Maka tugas kita adalah menjadi seorang mukmin yang baik. Rajin beribadah. Sehingga kelak tak kan menjadi saksi dari dahsyatnya hari akhir.

Sambil mendengar jawaban penutup pak ustadz, saya lihat wajah thifa.

Dan dia tersenyum... Masya Alloh. Ibu pun ikut senyum jadinya. Sambil ingin sedikit meneteskan air mata, melihat anaknya sudah bisa mendapat hikmah dari satu majelis ilmu.

Alhamdulillah Alloh tenangkan hati teteh di sini yaa.

Bismillah..
Semoga makin termotivasi yaa teh.. menjadi sebaik-baik muslim... sebaik-baik mukmin. 

Ketika waktunya nanti akhir dunia, semoga kita jadi bagian dari umat yang terselamatkan.

Barokallohu fiik