Tahun 2007 - 2010, saya sempat menjadi seorang guru matematika di sebuah MTs di Cimahi. Murid - murid saya ketika itu, kini sudah menjelma menjadi seorang dewasa. Cukup banyak yang masih berkontak ria via sosial media. Kadang lucu mengingat mereka yang dulu masih memakai seragam putih biru, kini sudah menjadi bapak-bapak atau ibu-ibu. Bahkan sudah ada yang beranak dua, menuju tiga. Mau nyamain gurunya. Beberapa waktu lalu, ada seorang murid yang nge japri di instagram untuk berkonsultasi tentang proses penyapihan anaknya. Bodor yaa, dulu mereka nanyanya tentang rumus luas lingkaran sekarang tentang penyapihan. Kemudian jadi teringat pernah menuliskan tentang proses penyapihan dua anak saya di blog. Akhirnya saya kirim linknya sambil baca lagi apa sih yang dulu ditulis. Ketika itu, dua bocah yang diceritain di blog melihat sekilas layar hape ibunya. "Bu, foto siapa tuh? Aku ya waktu bayi?" "Iya" "Ih itu tentang apa? " "Cerita waktu teteh kaka d...
Satu malam di tahun 2004. Saya menutup halaman terakhir sebuah novel di tangan dengan helaan nafas panjang. Pipi rasanya masih basah. Air mata telah mengucur deras sebelumnya, tapi anehnya hati terasa hangat. Malam itu tak terlupa. Sebagai seorang pecinta novel, sayang sekali rasanya melewatkan satu bacaan yang sedang hits ini. Namun, saya tak menyangka ternyata efeknya begitu dramatis pada diri. Ada sesuatu yang akhirnya mengetuk hati. Novel apa sih ? Ya, sesuai judul tulisannya, Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. Sepertinya hampir semua orang hafal ceritanya. Terlebih novel tersebut sudah diadaptasi ke dalam film bioskop. Bukan, saya menangis setelah membaca novelnya bukan karena Aisha yang harus merelakan berbagi suami dengan wanita lain. Pun bukan karena Maria yang pada akhirnya mencapai cintanya, tapi waktunya habis di dunia. Namun, satu hal yang membuat hati ini rasanya lebih tersentuh adalah keindahan islam yang banyak diangkat dalam novel ini. Saya jadi...
Komentar
Posting Komentar