12.7.15

2 - 4 - 2 Bukan Strategi Bola

Setelah empat tahun berturut-turut menjalani puasa ramadhan dengan status sebagai ibu hamil atau menyusui, akhirnya tahun ini saya bebas tugas dari dua profesi tersebut. Anak kedua saya baru saja selesai disapih seminggu sebelum memasuki Ramadhan. Rasanya lega bisa menjalani lagi ibadah puasa tanpa khawatir akan kondisi perkembangan janin atau produksi asi yang menurun.

Iya, ketika hamil dan menyusui saya tetap menjalankan ibadah puasa. Meski tentu saja dengan tidak memaksakan diri. Ketika dirasa kondisi badan sudah tidak memungkinkan untuk berpuasa, saya pun berbuka. Bahkan ketika hamil, saya hanya berpuasa selang sehari sesuai saran dokter kandungan.

Berpuasa dengan kondisi ada jiwa lain yang bergantung pada diri membuat saya lebih aware dengan asupan makanan dan cairan ke dalam tubuh. Makanan yang dipilih tentu yang bergizi. Asupan cairan pun sangat diperhatikan. Bahkan ketika tidur, saya sudah menyediakan air minum di samping kasur. Banyak juga mengonsumsi sayur dan buah. Alhamdulillah, selama empat tahun, ibadah puasa yang saya jalani pun berjalan lancar. Kehamilan tidak pernah ada masalah. Anak - anak pun tumbuh sehat.

Ketika tahun ini "bebas tugas" ternyata saya malah jadi lalai dengan kebiasaan baik ini. Mungkin ada perasaan jumawa. "Ah sambil hamil dan nyusuin aja lancar puasanya". Jadilah saya makan seenaknya, minum seingatnya.

Saya tidak menyadari efek sampingnya sampai di minggu kedua Bulan Ramadhan. Setiap menjelang sore hari, badan saya panas dingin, meriang, tak lama diikuti demam tinggi. Rasanya lemas sekali sampai saya kesulitan untuk menyiapkan makanan berbuka puasa untuk keluarga. Hanya bisa beristirahat sampai waktu berbuka tiba. Anehnya setiap pagi hingga siang hari saya tetap bisa beraktivitas seperti biasanya.

Ketika adzan magrib terdengar saya pun memperbanyak minum air putih, makan secukupnya. Tak lama demam pun berlalu, lemas mulai hilang. Setelah empat hari berturut-turut kondisi yang sama terjadi, kami pun memutuskan untuk periksa ke dokter dan meminta cek darah. Khawatir terkena demam berdarah atau tipes. Alhamdulillah hasil cek laboratorium menunjukkan semuanya negatif. Dokter menyimpulkan ini masalah daya tahan tubuh yang menurun. Bisa juga efek berpuasa. Dehidrasi atau kekurangan cairan.

Sepulang dari rumah sakit dan beristirahat di rumah, suami pun berkomentar, "harusnya kaya iklan aqua, bu. 2 - 4 - 2!" . Saya hanya tersenyum mengiyakan. Tapi memang pada akhirnya saya pun mulai menerapkannya.

Ketika berbuka puasa saya minum segelas teh manis hangat dilanjutkan makanan tajil kemudian ditutup segelas air putih. 2 pertama pun terpenuhi. Setelah itu biasanya saya dan anak-anak solat magrib lalu kemudian menyiapkan makan malam. Makan malam disudahi dengan segelas air putih kembali. Dua gelas sisanya biasanya saya minum di sela - sela solat tarawih dan sebelum tidur. Kemudian ketika bangun tidur hendak menyiapkan sahur, saya minum segelas air putih kembali. Sang 4 terpenuhi juga. 2 gelas terakhir saya minum ketika makan sahur. Biasanya saya menyediakan segelas air hangat diberi perasan lemon dan madu serta ditutup segelas air putih menjelang imsak. Tentu saja makanan pun dipilih yang bergizi. Mengurangi goreng-gorengan. Memperbanyak sayur dan buah.

Setelah menerapkannya, perlahan kondisi badan saya pun kembali normal. Sore hari saya mulai bisa beraktivitas kembali seperti biasanya. Mengajak anak-anak jalan-jalan sore dan menyiapkan makanan berbuka puasa. Ternyata strategi 2-4-2 ini cukup jitu untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap fit selama berpuasa. Terima kasih, Aqua!