30.6.21

Review Film Hope (2013)

Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini adalah membuat review film keluarga. Padahal banyak sekali film tentang keluarga yang sudah ditonton, tapi tetap saya bingung menentukan satu pilihan untuk diulas. Akhirnya di penghujung bulan Juni, saya pun memutuskan untuk menulis tentang satu film yang pernah sukses membuat saya menangis dari awal sampai akhir cerita. Judulnya "Hope". Salah satu film Korea yang tayang di tahun 2013.

Butuh keberanian sangat banyak bagi saya untuk menonton film yang satu ini. Sempat maju mundur, sampai akhirnya siap. Mengapa? karena filmnya bercerita tentang seorang anak perempuan yang mengalami pelecehan seksual sehingga mengalami trauma mendalam, bahkan sampai cacat fisik permanen. Gemetar enggak bacanya? Satu hal yang membuat semakin perih, film ini diambil dari kisah nyata yang terjadi di Korea sana. Sebagai ibu beranak perempuan tiga, rasanya hati saya teriris ketika membaca sinopsis singkatnya sebelum menonton.

Kenapa atuh keukeuh nonton? Ya, karena penasaran katanya filmnya bagus. Rating di IMDB-nya 8,3/10. Film ini juga memenangkan banyak awards, loh! Dan alasan lainnya ... for the love of korean movie sih, hahaha.

sumber : wikipedia


Tentang Hope


Sutradara     : Lee Joon-ik
Produser      : Byun Bong-hyun 
                       Seong Chang-yeon
                       Kim Yong-dae
Penulis         : Jo Joong-hoon
                       Kim Ji-hye
Pemeran       : Sol Kyung-gu
                       Uhm Ji-won
                        Lee Re
Tahun            : 2013
Durasi           : 122 menit

Sinopsis


So-Won adalah seorang anak perempuan berusia delapan tahun yang cantik dan pintar. Ayahnya, Dong-Hoon, adalah seorang pegawai pabrik. Ibunya, Mi-Hee, membuka toko kelontong di rumahnya. Di awal film diceritakan bahwa kedua orang tua So-Won ini selalu sibuk bekerja sampai terkadang anaknya terabaikan.

Suatu pagi, hujan turun cukup deras, So-Won pergi ke sekolah berjalan kaki sambil menggunakan payung. Di tengah perjalanan yang tidak jauh dari rumah dan sekolahnya, ia dihadang oleh seorang laki-laki mabuk kemudian dibawa ke bangunan lama yang terbengkalai. Di sini lah kisah tragis itu dimulai. 



So-Won diperkosa dan dianiaya sampai luka sekujur tubuhnya. Anus dan usus besarnya rusak berat sehingga harus diangkat dan digantikan oleh kantung kolostomi untuk seumur hidupnya. Selain itu, ia pun mengalami trauma mendalam. Ia sempat tidak mau berbicara dan merasa takut juga untuk berinteraksi dengan lelaki dewasa, termasuk ayahnya.

Sebagian besar dari film ini menceritakan proses healing So-Won dan keluarganya dari trauma pasca musibah yang menimpa mereka. Proses So-won sampai akhirnya mau berbicara lagi. Proses orang tua So-Won menerima kondisi anaknya.

Pun proses perjuangan sang ayah membangun kembali hubungan dengan anak gadisnya. Mulai dari googling tips berkomunikasi dengan anak sampai akhirnya ia menyewa pakaian badut Cocomong, tokoh kartun kesukaan So-Won, agar bisa menemani sang anak dari dekat.



Dukungan dari lingkungan sekitar pada akhirnya berperan penting dalam pemulihan So-Won hingga ia mau beraktivitas seperti biasa lagi. 

Perjuangan yang mengharukan ditutup dengan pengadilan dari tersangka pemerkosaan yang mana ternyata dengan alasan mabuk hingga hilang kesadaran, ia pun berpeluang mendapat hukuman cukup ringan untuk tindakan biadabnya. 

Apakah tersangka akan mendapatkan hukuman setimpal? Tonton sendiri saja, yaa

Review


Banyak adegan di film ini yang mengaduk-aduk perasaan. Salah satu adegan yang menusuk hati adalah ketika setelah kejadian, pihak yang pertama So-Won hubungi adalah 911, bukan orang tuanya. Semua orang memujinya pintar.  Namun, ketika ia mengungkapkan alasannya,  ayahnya tak kuat menahan tangis.  So-Won tidak menghubungi orang tuanya terlebih dahulu karena ia khawatir orang tuanya sedang sibuk bekerja sehingga ia akan mengganggunya. Ah, sungguh sebuah pengingat bagi kita selaku orang tua untuk menyeimbangkan antara waktu bekerja dan waktu yang berkualitas bersama anak. 

Salah satu adegan lainnya yang membuat saya terharu adalah ketika So-Won menebak bahwa sang Cocomong adalah ayahnya. Akhirnya setelah sekian lama, So-won mau berkontak fisik lagi dengan sang ayah, menatap matanya, menyeka keringatnya,  bahkan memeluknya.



Hal menarik lain dari film ini adalah saat melihat sesi-sesi terapi antara psikolog dan korban. Rasanya seperti belajar ilmu psikologi tentang bagaimana mengatasi trauma, bagaimana menemani korban untuk meluapkan apa yang ia rasa, serta bagaimana menumbuhkan harapan baru di hatinya agar ia tak terus terpuruk.

Akting dari para pemain di film ini pun luar biasa. Tak heran beberapa di antara mereka masuk nominasi beberapa penghargaan, bahkan sampai memenangkannya.

Sesungguhnya film "Hope" ini memang bukan jenis tontonan yang cocok ketika membutuhkan hiburan. Filmnya terlalu mengaduk-aduk perasaan dan membuat mata sembab, hihihi. Namun, film ini menyuguhkan banyak sekali hikmah kehidupan yang bisa kita ambil dan renungkan. So, it a must- watch movie! 




14.6.21

Alarm Hidup

Menjadi manusia yang ramah lingkungan adalah satu tantangan besar buat saya. Adakah yang merasakan hal yang sama? Rasanya butuh energi besar untuk mulai melangkah, bahkan dengan hal yang kecil,  seperti meminimalisir sampah dari rumah. 

Hal ini tentunya akan jauh lebih berat ketika dilakukan sendirian. Oleh karena itu, hal pertama yang saya lakukan ketika berniat untuk mulai ikut aksi ramah lingkungan adalah dengan membeli buku! 

HahKok beli buku? 

Iya, saya membeli buku komik "Keluarga Minim Sampah" karya penulis cilik Keni (10 tahun). Keni ini adalah putri dari D.K Wardhani, seorang penulis buku anak dan aktivis lingkungan.

sumber : instagram @dkwardhani


Tentu saja buku ini untuk dibaca bersama dengan anak-anak di rumah. Alhamdulillah, buku ini membantu saya dalam memberikan pemahaman kepada mereka tentang isu besar di bumi kita saat ini, serta memberikan bayangan tentang hal-hal apa saja yang bisa kami lakukan untuk menjaga lingkungan.

Selain itu,  tujuan lainnya adalah menjadikan anak-anak ini alarm hidup untuk orang tuanya. Cung,  siapa yang sering diingatkan dan dikritisi oleh para bocah? Saya sih sering, hahaha.

Setelah membaca komik 'Keluarga Minim Sampah', bermunculan lah komentar-komentar seperti di bawah ini :

"Bu, ini sampah keringnya buang kemana?kok ga ada tempatnya"

"Bu, aku udah bawain tas belanja ya dari lemari dapur"

"Bu, beli sedotan stainless donk,  biar kita ga usah pakai sedotan plastik lagi."

"Bu, aku udah bekel minum ya, biar nanti ga usah beli minum lagi di jalan.  Ga nyampah deh."

"Bu, lampu kamar mandinya jangan lupa dimatiin."

"Bu,  adel nggambarnya di balik kertasnya aja ya,  sayang loh ini masih bisa dipake.  Biar ga hambur kertas."

"Bu, rantangnya bagus tuh, " kata anak gadis ketika menemani ibunya yang sedang window shopping di dunia maya,  "Bisa dipake buat beli soto atau bubur kan, biar ga usah pake plastik lagi." 
Yes,  jadi ada alasan buat ngetik, "mau ya sis" dehhahaha.

Sesungguhnya masih banyak PR yang harus kami lakukan untuk menjadi keluarga minim sampah. Namun, semua pun membutuhkan proses, kan? InsyaAlloh,  kita mulai pelan-pelan, ya,  Nak!  

Alhamdulillah, sampai saat ini anak-anak masih semangat ikut menjaga lingkungan dengan hal-hal kecil yang bisa dilakukan, ya masa ibunya enggak semangat, kan? Malu, donk! 

31.5.21

Lima Resep Olahan Nasi Sisa

Tantangan blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini adalah menuliskan resep masakan andalan di hari spesial. Wow, menarik, ya! Meski tetap karena ke-sok-sibuk-an saya, ujungnya jadi tim deadliner juga. 😆



Sebenarnya saya cukup sering menulis resep masakan di Instagram dengan tagar #dapuribuanggun, tapi biasanya yang saya tulis adalah resep masakan sehari-hari. Ketika dihadapkan pada resep andalan di hari spesial, saya malah jadi bingung mau menulis apa. 

Kami tidak merayakan ulang tahun, jadi saya tidak pernah memasak khusus di hari tersebut. Kalau hari raya,  biasanya saya jadi tim dimasakin oleh Mamah. Baru lebaran tahun ini saya masak sendiri,  tapi itu pun menggunakan bumbu instan. Kan enggak lucu kalau saya hanya ngopi paste petunjuk pemakaian di balik kemasannya ke sini, hahaha.

Akhirnya, saya memutuskan mau berbagi resep mudah yang semoga bermanfaat saja deh karena setiap hari itu terasa spesial asalkan kita berkumpul bersama orang-orang tersayang bukan?  😁

Makanan Yang Hampir Setiap Hari Ada

Ada yang masuk tim kalau belum makan nasi,  belum kenyang? Katanya sih ini ciri khas orang Indonesia. Meski sudah makan roti, mie, atau kentang,  rasanya belum afdhol kalau belum makan nasi dan lauk pauknya. 

Alhasil, nasi itu seperti jadi makanan wajib yang hampir setiap hari ada di rumah. Namun, kadang-kadang jumlahnya melebihi prediksi porsi makan keluarga. Berujung adanya nasi sisa, sedangkan lauknya mah udah kemana. 

Sebagai anggota tim anti mubazir, tentu saja paling sedih kalau nasinya berujung dibuang.  Jadilah, seringkali nasi sisa tersebut saya olah kembali.

Berikut ini lima resep andalan saya dalam mengolah nasi sisa. 

1. Nasi Goreng

Wah,  kalau ini sih menu yang paling sering, paling mudah,  dan paling umum dimasak oleh semua orang dengan menggunakan nasi sisa kan, ya? 

Saya mau berbagi tips memasak nasi goreng yang nikmat ala tukang nasi goreng tek-tek keliling saja deh.

Tips :
1. Masukkan nasi sisa ke dalam kulkas terlebih dahulu sebelum dimasak. Nasi yang keras dan dingin akan membuat nasi gorengnya tidak lengket dan bumbu lebih meresap. 

2. Gunakan baceman bawang. Baceman bawang ini adalah bawang putih cincang yang direndam dalam minyak. Saat pembuatannya, pastikan bawang putih dan alas mencincangnya kering, ya! Tidak boleh ada air yang masuk.  

Kita bisa menstok baceman bawang ini di dalam kulkas dengan sebelumnya dibiarkan dulu dalam suhu ruang selama satu hari. Jika proses pembuatan dan pengambilannya bersih serta kering,  baceman bawang bisa kuat hingga tiga bulan.  Tumisan dan nasi/mie goreng akan lebih wangiiii jika dimasak menggunakan baceman bawang ini.

Nasi goreng putih. Salah satu favorit keluarga.

2. Arancini atau Bola-bola Nasi

Katanya,  arancini ini makanan yang berasal dari Italia.  Kalau bahasa gampangnya sih bola-bola nasi. Ini salah satu makanan favorit anak-anak saya.  Ibunya pun senang karena dalam satu makanan ini sudah komplet gizinya. Kita bisa memasukkan karbohidrat, protein, dan sayuran sekaligus. One dish meal. Isiannya pun bisa bermacam-macam, disesuaikan dengan yang ada di rumah.

Langsung diserbu begitu matang

Membuatnya pun mudah, hanya saja membutuhkan ketelatenan dalam membulat-bulatkan nasi dan melumurinya dengan tepung panir. Jadi, membuat bola-bola nasi ini disarankan kalau lagi luang saja, ya! Nasinya pun enggak usah banyak-banyak. Kalau kebanyakan, lelah ngebuletinnya, Pemirsa! 

Bahan :
- 1 mangkok nasi
- Nugget/sosis/baso/ayam matang,  potong kecil-kecil
- Sayuran : wortel parut,  buncis potong kecil,  atau apa pun sesuai selera
- Kecap asin secukupnya
- Keju parut secukupnya
- 1 buah telur
- Terigu secukupnya
- Tepung panir secukupnya

Cara membuat :
1. Campurkan nasi dengan protein hewani dan sayuran dalam mangkok.  Aduk rata. 
2. Bumbui dengan kecap asin
3. Tambahkan keju.  Aduk rata kembali. 
4. Ambil satu sendok campuran nasi.  Taburi dengan terigu. Wajib ditaburi terigu, ya!  Kalau tidak, akan sedikit sulit untuk membentuk bulatan. Bulatkan dengan menggunakan kepalan tangan.
5. Gulingkan bulatan nasi dalam telur kocok.
6. Baluri dengan tepung panir. 
7. Goreng sampai kecoklatan. 
8. Bola-bola nasi siap dinikmati

Pilihan pas juga untuk bekal sekolah


3. Bubur Hongkong

Bubur hongkong ini adalah salah satu comfort food saya. Buburnya saja tanpa topping pun rasanya sudah lezat. Namun,  tentu saja toppingnya pun akan semakin menambah kenikmatan.

Bahan : 
- 1 mangkok nasi
- 3 gelas air
- 3 potong ayam.  Pisahkan daging dan tulangnya. Tulang digunakan untuk merebus bubur. Daging dicincang untuk topping bubur. 
- 1 butir bawang bombay
- 3 butir bawang putih
- Minyak wijen secukupnya
- Kaldu bubuk secukupnya
- Gula, garam,  merica secukupnya

Topping :
- Telur. Bisa dibuat untuk telur dadar atau direbus. 
- Cakue. Tidak usah meribeti diri dengan membuat sendiri, ya! Eh,  kecuali Anda memang rajin. Saya sih seringnya beli di tukang cakue terdekat,  hahaha. 
- Pangsit goreng. Saya biasanya membeli kulit pangsit kemasan, mengguntingnya menjadi empat bagian, kemudian menggorengnya sampai kecoklatan. 
- Irisan bawang daun. 
- Chili oil. Di bawah ini nanti akan saya sertakan cara membuatnya yang super cepat. Rahasianya adalah b*ncabe!  Ya,  si cabe bubuk yang sudah berbumbu. 

Berikut ini tahapan cara membuat bubur hongkong ala saya :
1. Tumis bawang putih dan bawang bombay dengan minyak yang agak banyak. Perkirakan minyak akan cukup untuk membuat chili oil, perasa bubur, dan tumisan ayam cincang untuk topping. 
2. Tambahkan minyak wijen. 
3. Setelah wangi, ambil sekitar 3 sendok makan minyak bawang tersebut. Campurkan dengan satu bungkus b*ncabe di dalam mangkok. Chili oil sudah siap. 
4. Masukkan tulang ayam ke dalam sisa tumisan bawang.  Masak sampai harum.  Masukkan tulang dan bawang ke dalam panci berisi air dan nasi (sisakan sedikit minyak bawangnya, ya. Nantinya akan digunakan untuk menumis ayam cincang). 
4. Rebus nasi sambil diaduk sampai menjadi bubur. Bisa dijuga dimasak dengan menggunakan panci presto.Tentu saja, dengan menggunakan panci presto akan sangat menghemat waktu dan tenaga. Jangan lupa tambahkan kaldu bubuk ke dalam bubur.
4. Sisa minyak bawang digunakan untuk menumis ayam cincang.  Bumbui dengan gula,  garam,  merica dan kaldu bubuk. 
5. Bubur bisa dihidangkan dengan topping yang sudah disiapkan. 



Chili oil sungguh menambah kenikmatan


4. Pizza Nasi

Nah,  kalau yang satu ini paling sering saya buat karena praktis untuk dijadikan menu sarapan. Nama kerennya saja pizza nasi,  padahal sebenarnya ia adalah dadar nasi,  hahaha.

Cara membuatnya sangat mudah.  Berikut ini tahapannya :
1. Pilih isian yang akan digunakan.  Biasanya saya menggunakan sosis,  baso,  nugget,  atau ayam matang. Semuanya diiris tipis. 
2. Campurkan isian tadi dengan nasi.
3. Tambahkan telur,  kemudian aduk rata. 
4. Bumbui dengan kaldu bubuk. 
5. Dadar di wajan datar sampai kecoklatan.  Hati-hati saat membaliknya. Kalau sampai sobek atau hancur, nanti gagal jadi pizza donk. Bisa juga dibalik dengan bantuan piring agar tetap bulat sempurna. 
6. Sesudah matang,  hidangkan dengan olesan saos dan taburan keju parut.

Pizza nasi tanpa taburan keju karena habis, hihihi.

5. Nasi Coklat

Masakan ini bukan berasal dari beras coklat, ya,  tapi literally nasi putih yang dicampur dengan coklat.  Mungkin banyak yang belum familiar dengan jenis makanan satu ini.  Nasi kok dibuat manis. Wah,  Anda harus coba karena rasanya enaaaak.

Menu ini salah satu andalan saya di masa MPASI ketika anak-anak sudah boleh mengonsumsi gula. Tentu saja mereka suka. Coklat gitu loh! 

Cara membuat :
1. Panaskan 1 kemasan susu UHT coklat. Jika ingin mengatur kadar gulanya bisa juga menggunakan susu UHT plain yang ditambahkan bubuk coklat dan gula secukupnya. 
2. Tambahkan nasi ke dalam rebusan susu,  aduk rata. 
3. Tambahkan kurma potong/ kismis dan irisan kecil apel.
4. Masak sampai susu menyusut. 
5. Siap dihidangkan dengan taburan keju. Bisa juga dimasukkan ke dalam kulkas, kemudian disajikan dingin. 

Bisa dijadikan bekal juga

Cemilan berat padat kalori untuk anak


Itulah lima resep olahan nasi sisa yang bisa saya bagikan. Semoga bermanfaat, ya! Terhindar dari kemubaziran terasa bagai salah satu prestasi untuk emak-emak, bukan?  

Happy cooking!

24.5.21

Bukan Keluarga Cemara, Meski Punya Becak

Suatu hari di tahun 2014, ketika kami masih tinggal di Surabaya, suami sempat berkata,  "Beli sepeda mahal-mahal, yang bisa dibonceng cuma satu. Mending beli becak sekalian, ya, bisa kebawa semua." Waktu itu,  saya iya-iya-in saja. Beliau memang hobi mengeluarkan ide-ide kreatif. Namun, saya tidak menyangka ternyata urusan becak ini beneran dieksekusi.

Beberapa hari setelahnya, becak bekas yang dijual pemiliknya karena sudah beralih ke becak motor parkir manis di depan rumah kami. Becak yang berhasil membuat anak-anak terpukau.  "Ini beneran becaknya teteh? Becak kita?" tanya si sulung dengan takjub. Begitulah bapakmu, Nak, sering out of the box, hahaha. 

Pertemuan pertama

Tiga minggu setelahnya jadi momen penuh keseruan buat kami. Kegiatan harian diwarnai dengan mencicil mendandani becak. Mulai dari mengelas dan mengecatnya, memilih kain untuk tudungnya, mencari tukang sol sepatu yang mempunyai jarum besar untuk menjahit tudung tadi,  sampai menyervis sang becak ke bengkel agar lebih nyaman dipakai.

Mengecat bersama


Akhirnya sang becak pun bisa digunakan. Tujuan perjalanan pertama kami adalah Indomaret depan komplek untuk membeli sampo bergambar Minnie Mouse dengan hasil tabungan pertama Teteh Thifa yang saat itu berusia tiga tahun. Sungguh perjalanan yang memorable.

Setelah itu, sang becak pun mewarnai hari-hari kami dan menemani ke banyak tempat. Ia mengantarkan kami ngabuburit keliling komplek, membeli sayur ke pasar, mencari sarapan ke McDonald, sampai belanja bulanan ke Lotte Mart. Ternyata menyenangkan juga memakai becak karena tidak perlu bayar parkir dan dapat bonus semriwing angin, hahaha. 

Para tetangga biasanya menyapa sambil terpukau ketika kami lewat. Mereka ikut tersenyum melihat anak-anak yang girang digowesin Abinya. Para tukang becak sekitar rumah pun sering melambaikan tangan. Tak lupa, mereka juga sering memberikan tips untuk merawat si kendaraan roda tiga ini.

Bagasinya di depan, hahaha.

Becak ini pun selalu mengikuti kepindahan kami ke berbagai kota. Becak Jawa timur ini mengembara sampai ke Jawa Barat. Ia ikut kami pindah ke Bandung dan Indramayu. Setiap kali pindahan, para tukang angkut takjub karena ada becak yang ikut serta masuk truk.


Sang becak mampir ke Sport Jabar Arcamanik



Di Indramayu, penumpangnya nambah satu


Pernah satu kali menjelang kepindahan kami dari Indramayu kembali ke Bandung, saya memberi ide untuk menjual sang becak. Suami menolak dengan tegas, "Enggak ah, mau dibawa lagi. Nanti kita cari rumah yang bisa buat parkir becak juga." Bahkan setelah itu, sang becak pun di- make over oleh beliau, menjadi lebih cantik dengan cat merah muda dan tudung baru berbahan kulit sintetis.

penampilan baru

Terkadang, ide-ide kreatif beliau memang mengejutkan kami. Namun, itu juga yang membuat hidup kami menjadi lebih seru dan berwarna. Dan ternyata beliau pun sering menyimpan alasan yang manis di baliknya, termasuk soal becak ini. 

Di salah satu momen pillow talk kami, beliau sempat berkata, "Abi mah beli becak teh pengen ngasih kenangan manis aja sih buat anak-anak di masa kecilnya. Semoga nanti mereka inget terus, ya." 

Ah, hatiku pun menghangat mendengarnya.
Terima kasih, Abi!


3.5.21

Manisnya Sebuah Perjuangan

Kalau membahas tentang pendidikan,  saya termasuk yang memiliki privilege untuk menikmatinya tanpa kesulitan berarti. Meski harus mengalami tiga kali pindah sekolah saat SD karena mengikuti kepindahan orang tua,  saya selalu bisa bersekolah di tempat yang baik dan disediakan segala fasilitas pendukungnya oleh orang tua.

Berbeda dengan suami, untuk mengenyam pendidikan tinggi, beliau harus melalui perjuangan yang cukup berat dan panjang. Alhamdulillah, beliau memiliki pendukung utama yang selalu bersemangat ikut berjuang,  bapaknya.

Bapak mertua, qadarulloh, menjadi seorang yatim piatu sejak kecil. Ia harus berjuang mengumpulkan biaya sendiri untuk bersekolah. Hobinya adalah membaca, terutama tentang politik dan sejarah. Karena sulit mendapatkan buku, papan baca koran menjadi alternatif bacaannya.

Cita-citanya adalah masuk sekolah kejuruan. Sayangnya, uang yang berhasil dikumpulkan untuk biaya sekolah, hilang entah kemana saat beliau akan pergi mendaftar. Cita-citanya yang kandas ini akhirnya dititipkan pada anak laki-lakinya. 

Sejak anaknya kecil, Bapak sangat peduli perihal pendidikannya. Meski tidak memasukkan anaknya ke TK karena keterbatasan ekonomi, beliau selalu membesarkan hati sang anak dengan berkata,  "teu nanaon, diajar di bumi weh ku Apa."

Bapak serius akan hal ini. Suatu hari, beliau pulang dengan membawa papan tulis besar yang kemudian menjadi media sekolah-sekolahan di rumah. Usahanya tidak sia-sia. Sebelum memasuki SD, suami sudah lancar membaca, menulis,  dan berhitung.

Alhamdulillah saat bersekolah, prestasi suami pun cukup cemerlang. Beliau langganan menjadi juara kelas. Beliau pun aktif mengikuti perlombaan mewakili sekolah,  mulai dari lomba cerdas cermat sampai siswa teladan. Tentu saja rasa bangga Bapak pun membuncah. Hal ini terlihat dengan selalu hadirnya Bapak di setiap kesempatan anaknya mengikuti perlombaan. 

Saat memasuki SMP, suami bersekolah cukup jauh dari rumah.  Bapak dengan setia mengantarnya memakai sepeda. Sampai akhirnya, alhamdulillah terkumpul juga dana untuk membeli sepeda lain,  sehingga suami bisa memakai sepeda sendiri menuju sekolah. 

Menjelang SMA, suami sempat meminta untuk bersekolah di dekat rumah saja. Sekolah negeri favorit juga,  meski bukan urutan teratas. Alasannya sih karena jarak, tapi sebenarnya yang utama karena teman-temannya banyak yang berniat masuk ke sana juga, hahaha. Balada ABG, hobi mengikuti arus kemana teman pergi.  Bapak tentu menolak. Beliau bersikeras anaknya harus bersekolah di sekolah terbaik,  sekolah urutan teratas, walaupun jauh dari rumah.   

Cita-cita Bapak terpenuhi. Suami lulus masuk sekolah unggulan terbaik di Bandung. Hari itu, hari pertama suami menjadi murid SMA, Bapak terlihat dari kejauhan, duduk di atas sepedanya dengan bangga, menatap anaknya yang mengikuti upacara penerimaan siswa baru di sekolahnya.

Tidak usah ditanya, bagaimana bangganya Bapak ketika akhirnya anaknya menjadi mahasiswa institut yang katanya terbaik di Indonesia. Walaupun ternyata berjuang untuk lulus dari sana pun tidak mudah, terutama soal biayanya.  Bapak dan suami sangat bekerja keras untuk itu. Mencari beasiswa, rajin berjualan, ngajar privat sana-sini untuk bekal, bahkan seringkali sampai menginap di kampus supaya bisa menghemat ongkos pulang. Alhamdulillah, saat ini mereka berdua sudah bisa merasakan manisnya hasil dari sebuah perjuangan yang panjang.

Saya patut bersyukur diberi kemudahan dalam menuntut ilmu di bangku sekolah. Namun, kadang saya pun merasa iri (in a positive way) dengan banyaknya hikmah yang bisa suami rasakan dari perjuangannya berpayah-payah dalam bersekolah. Saat ini, koleksi ceritanya pun jadi lebih banyak dan seru buat dibagikan kepada anak-anak. Ibu kalah saing deh, hahaha.

30.4.21

Little Wisdom

Begitu tahu tantangan blogging Mamah Gajah Ngeblog di Bulan April ini adalah ulasan buku, saya langsung menatap koleksi tumpukan buku kepunyaan bocah di rumah.  Iya, sekarang ini koleksi buku mereka lebih banyak dibandingkan ibunya, mulai dari picture book, komik, ensiklopedia, sampai novel.

Akhirnya, dipilihlah satu novel yang baru saja diselesaikan oleh si sulung dalam waktu tiga hari. Novelnya bercerita tentang masa kecil seorang perempuan yang kelak di masa depannya akan menjadi seorang ibu hebat dari empat anaknya. Pas sekali dengan syarat tantangan kali ini yaitu ulasan buku tentang/yang ditulis oleh perempuan inspiratif. Alhamdulillah, tenang sudah hati ini. Bahan menulis sudah di tangan.

Hari pun silih berganti, sampai akhirnya tiba juga di penghujung bulan April. Namun, sang novel baru saja terbaca kurang dari sepuluh halaman. Duh!

Adakah yang bernasib sama seperti saya? Tak seperti zaman 'muda' dulu yang kalau belum tamat membaca satu buku rasanya enggak ingin tidur. Sekarang ini, baru membaca satu halaman saja, kok mata bawaannya langsung mengantuk. Anehnya, berbeda dengan saat menonton drama korea. Kalau sudah menonton satu episode, kok ya malah masih ingin nambah lagi, hahaha.

Akhirnya demi ikut tantangan, menjelang deadline, saya mengingat kembali buku-buku yang pernah saya baca. Ingatan mengajak saya pada satu buku parenting favorit sejak tahun 2018. Buku yang memberi kesan cukup mendalam di hati. Buku yang sebenarnya pernah saya ulas di satu tantangan menulis yang lain,  tapi kali ini mari kita ulas kembali dengan lebih lengkap. 

Buku ini ditulis oleh Reti Oktania, seorang ibu beranak dua yang saat ini berprofesi sebagai psikolog anak. Bukunya berjudul Little Wisdom. 


Buku Parenting yang Unik

Iya, Little Wisdom ini adalah sebuah buku parenting. Namun anehnya, tidak membahas banyak tentang teori parenting terkini. Pun tidak mengulas do's and dont's yang harus diketahui ketika menjadi orang tua. Buku sederhana ini 'hanya' berisikan dialog-dialog keseharian antara seorang ibu dan putrinya. Dialog yang menginspirasi sekaligus menohok di hati.

Buku ini memberikan warna lain tentang dunia parenting karena dilihat dari kaca mata seorang anak. Katya, anak sang penulis, tokoh utama dalam buku ini, yang ketika itu berusia lima tahun seringkali mengejutkan Mamanya dengan celetukan-celetukan bijaknya. Sampai akhirnya, Mama Reti pun mengabadikan percakapan-percakapan mereka dalam sebuah buku yang diberi judul "Little Wisdom".

Salah satu faktor yang membuat buku ini sangat berkesan untuk saya mungkin juga karena usia Katya yang tidak jauh berbeda dengan anak saya. Jadinya terasa relate dengan percakapan-percakapan yang terjadi.

Saya beberapa kali merasa disentil ketika membaca buku ini. Merasa sudah banyak tahu tentang ilmu parenting tapi ternyata sering terlewat memperhatikan perasaan anak. Apakah dia nyaman dengan yang sudah saya lakukan?  Apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan ketika tantrum? Atau apa yang dirasakannya ketika saya memilih time out mengurung diri sendirian di kamar ketika emosi sedang memuncak?

Katya memberikan banyak insight untuk hal-hal tadi di atas. Ketika sedang tantrum, sebenarnya dia merasa bingung dan yang diinginkannya adalah pelukan. Ketika Mamanya memilih time out sendirian untuk meredakan emosi ternyata dia merasa kesepian. Banyak pula hal bijak lainnya tentang kehidupan yang dituturkan oleh seorang Katya.




Dialog yang Paling Disukai

Dari banyak percakapan yang ditulis dalam buku ini,  ada satu yang paling saya suka. Dialog ini terjadi ketika Mama Reti melakukan kesalahan saat membantu Katya mewarnai gambarnya. Ketika itu,  Mama Reti meminta maaf atas kesalahannya dan Katya pun berkomentar, "It's OK Mama, don't be sad. People make mistakes and that's OK." 

Awww.. dituturkan oleh seorang anak berusia lima tahun, kalimat tersebut rasanya manis sekali yaa.


Menurut saya, kekritisan dan kebijaksanaan Katya tentu tidak tumbuh secara tiba-tiba. Setiap dialog yang berujung sebuah wisdom biasanya dibuka dengan open question dari Mamanya tentang sesuatu hal kemudian berlanjut dengan diskusi hangat seperti layaknya seorang teman. Satu hal yang saya kagumi dari penulis buku ini dan berusaha saya teladani.


Hal Lain dari Little Wisdom

Buku ini tidak melulu menonjolkan kebijaksanaan seorang gadis mungil, tapi juga menuliskan celetukan-celetukan polosnya Katya sebagai seorang anak kecil. Ada pula ilustrasi hasil karya Katya yang ditampilkan, selain ilustrasi dari ilustrator utama. Di akhir buku juga disisipkan sebuah cerita tentang gajah pecinta cupcake karya Mama Reti dan Katya. Cerita anak yang lucu nan berhikmah. Anak-anak saya pun suka.


Tidak Semua Anak Seperti Katya

Buku setebal 105 halaman ini bisa dibaca dalam sekali duduk. Bahkan, pernah suatu malam saya dan anak-anak menjadikannya sebagai bacaan pengantar tidur dan membahasnya bersama. Ketika itu terjadi obrolan berikut

 Ibu       : "Kalau lagi nangis gitu, Katya katanya seneng dipeluk. Kalau kalian gimana?"

Teteh    : "Iya, aku juga pengennya dipeluk sampai nangisnya udahan"

Ibu        : "Hoo gitu ya.. kalau Kaka?

Kaka     : "Enggak, aku enggak suka. Aku lebih pengen dicuekin aja, tar nyamperin sendiri"

Deg! Ketika itu pula saya menyadari ternyata setiap anak itu tidaklah sama. Apa yang mereka inginkan dan rasakan bisa berbeda. Tidak semua anak merasakan hal yang sama seperti yang Katya ceritakan. Namun, satu hikmah yang bisa saya ambil dari buku Little Wisdom adalah pentingnya kebijaksanaan orang tua untuk mau berdiskusi tentang hal tersebut bersama sang anak. Tentunya di waktu dan kondisi yang tepat. 

Well, terima kasih Katya dan Mama Reti sudah membuat buku yang bisa membuka mata dan menghangatkan hati.

Oh iya,  Katya saat ini sudah berusia 9 tahun. Masih menjadi gadis kecil yang bijaksana. Petuah bijaknya bisa dilihat di akun instagram Mama @retioktania.


Tentang Penulis

Saya termasuk salah satu follower instagram Mbak Reti Oktania sejak tahun 2015. Ketika itu,  Mbak Reti termasuk salah satu influencer instagram yang cukup aktif membuat postingan tentang aktivitas anak dan dunia parenting. Ketika akhirnya beliau menerbitkan buku ini, tentu saja saya berminat untuk membacanya.

Sebenarnya Mbak Reti ini merupakan kerabat mamah gajah karena bersuamikan seorang papah gajah, hehehe.  Mungkin itu juga ya yang membuat saya merasa dekat padahal kenal saja enggak,  hahaha. 

Mbak Reti sempat mengembara ke Jerman mengikuti penugasan suaminya. Di sana lah tempat Katya banyak mengeluarkan petuah bijaknya sampai akhirnya dibukukan. Sekitar tiga tahun lalu, Mbak Reti kembali ke Indonesia dan mengambil kuliah profesi psikologi klinis anak. 

Setelah resmi menjadi psikolog anak, beliau pun mulai aktif membuka biro konsultasi dan berbagi ilmu juga lewat akun instagram @thelittlewisdom_id. Wajib difollow, Buibu!  Banyak hal yang dibagikan di akun instagram ini yang bermanfaat dan mencerahkan. 


***





26.4.21

#dapuribuanggun

Saya suka memasak, meski enggak jago-jago amat. Sejauh bisa mengingat, pengalaman pertama saya dalam memasak adalah ketika memberi hadiah ulang tahun berupa bekal makan siang hasil masakan sendiri untuk seorang teman jaman kuliah tingkat dua dulu. Bekalnya berisi nasi, ayam goreng, dan sayur asem. Lengkap sekali,  bukan? 

Padahal sejujurnya, memasak yang saya maksud kala itu adalah menggoreng ayam yang sebelumnya sudah diungkep oleh Mamah dan memasak sayur asem yang bumbunya pun sudah diulek oleh Mamah ... hahaha. Meski saya sih tetap ngakunya masakan hasil sendiri, demi gengsi.

Mamah saya jago memasak. Beliau adalah lulusan SKKA (SMK pada jamannya) jurusan tata boga. Sayangnya, anak-anaknya jarang diajak terlibat dalam kegiatan di dapur. Setelah memiliki anak, saya bisa paham sih alasannya. Keonaran yang dihasilkan memang cukup lumayan ketika mengajak anak ikut memasak. 

Saya pun akhirnya baru benar-benar terjun ke dapur menjelang menikah. Alhamdulillah, teman yang dulu dihadiahi masakan tadi akhirnya menjadi teman hidup yang bisa saya masakin setiap hari. Alhamdulillah,  beliau juga tidak protes saat tahu sayur asem buatan saya ternyata tidak senikmat "masakan saya" dahulu ... hahaha.

Iya,  motivasi memasak itu akhirnya terbit setelah menikah, ditambah suami pun meminta kesediaan saya untuk menjadi ibu rumah tangga saja.  Memasak menjadi salah satu aktivitas seru yang bisa saya lakukan sehari-hari.

Namun, keinginan memasak itu terbenam perlahan seiring munculnya rasa mual di trimester awal kehamilan. Mencium bau bawang rasanya ingin muntah.  Akhirnya, saya pun absen cukup lama dari urusan perdapuran.

Motivasi itu bangkit kembali ketika anak memasuki usia mengonsumsi MPASI. Berbagai resep, saya coba. Berbagai komunitas memasak, saya ikuti.

Saat itu, media sosial pun mulai ramai.  Buat saya yang ekstrovert, tinggal di rantau, dan berkegiatan di rumah saja,  media sosial ini bisa menemani dan mengisi hari-hari. Selain untuk mencari ide resep masakan,  media sosial pun saya manfaatkan untuk berbagi hasil kreasi saya di dapur. Sampai akhirnya dengan sedikit tak tahu malu,  saya pun membuat tagar #dapuribuanggun.

Kesannya seperti chef  profesional,  padahal amatiran. Biasanya saya hanya berbagi resep mudah. Ya, lagipula kalau sulit, niscaya saya pun malas membuatnya.  Memasak lontong dengan rice cooker, cara cepat membuat jasuke, atau tips kilat mendapatkan chili oil adalah sedikit yang saya bagi di sana. Salah satu jalan untuk menyalurkan hobi menulis juga karena biasanya tak hanya resep yang saya bagi, tapi juga cerita di baliknya. 

Selama hampir sembilan tahun, #dapuribuanggun ini mengisi hari-hari saya. Meski kadang tagar ini hilang juga dari peredaran di dunia maya, biasanya kalau saya sedang malas masak atau lagi kepikiran, "nanaonan sih Nggun, kikieuan,  meni hayang eksis wae." ... hahaha.

Namun, ternyata menyenangkan ketika ada yang memberi komentar, "Gun,  ko udah lama ga posting resep sih,  aku suka ngikutin loh.". Wah,  ternyata dirindukan. 

Bahagia juga saat akhirnya berbagi resep dan ada yang berkomentar, "Wah pas banget, lagi cari resep ini. Mau buat ah,  kayanya gampang ya. Nuhun, gun."

Iya, bahagia ternyata bisa sesederhana itu, ketika mengetahui hal kecil yang kita lakukan bisa bermanfaat untuk orang lain. Saat itu, saya pun merasa menjadi seorang perempuan yang berdaya.

Alhamdulillah. 


Beberapa hasil karya di #dapuribuanggun



17.4.21

Mamah Ijoh

Wanita yang akan saya ceritakan ini adalah seorang ibu beranak tiga. Ketiga anaknya lelaki. Konon, beliau sesungguhnya sangat ingin memiliki anak perempuan. Namun, cita-citanya ini, qadarullah, belum kesampaian. 

Para keponakan perempuan akhirnya menjadi tempat ia melabuhkan kasih tak sampainya. Beliau ikut mendandani dan mengasuh mereka bagai anak sendiri. Sampai akhirnya, mereka pun ikut memanggilnya Mamah.

Mamah Ijoh, begitu beliau dikenal. Kalau saya dan anak-anak berkunjung ke kampung halamannya, kerabat yang bertemu biasanya akan berkata, "Joh.. ieu incu, Joh. Awewe kabeh." sambil menatap langit-langit dan menitikkan air mata mengingatnya. 

Iya, pada akhirnya beliau yang sangat mendamba anak perempuan memiliki tiga cucu perempuan. Sayangnya, beliau tidak sempat bertemu langsung dengan mereka.

Mamah Ijoh meninggal dunia pada tahun 2004, ketika suami masih menjadi mahasiswa tingkat pertama. Beliau telah tiada ketika akhirnya kami menikah. Saya memang belum pernah bertemu langsung dengannya, tapi tentu banyak mendengar cerita tentangnya.

Beliau terkenal dengan keahliannya dalam mengaji. Setiap kali ada acara keagamaan di kampungnya, beliau seringkali bertugas membacakan ayat suci.

Mamah juga andal dalam memasak. Masakannya selalu menjadi bagian dari cerita suami tentangnya, mulai dari sambal oncom sampai tumis ampas kecap. 

Pernah satu kali, suami yang memang terpisah jarak dengan Mamah sejak kecil karena bersekolah di Bandung mengajak temannya untuk ikut berlibur ke Majalengka, tempat Mamah tinggal. Ketika itu, tumis remis dihidangkan sebagai sajian.

Ternyata, menu sederhana ini mendapat sambutan yang luar biasa.  Sampai-sampai ketika sang teman kembali ke Bandung, ia bereksperimen di dapur untuk membuat tumisan yang sama, meski tentu saja sulit menyamai kelezatan buatan Mamah. 

Everything happens for reasons. Petuah ini rasanya pas dengan yang dirasakan suami ketika gagal lulus SPMB di tahun pertamanya. Selain bertemu saya di tahun berikutnya ... hehehe,  hikmah lainnya adalah beliau bisa fokus menemani Mamah yang ketika itu sedang sakit. 

Setahun terakhir kehidupannya, Mamah menderita komplikasi berbagai penyakit. Beliau sempat bolak balik dirawat, kemudian mengalami masa pemulihan cukup lama di rumah. 

Alhamdulillah, suami bisa mendampinginya di masa itu karena keleluasaan waktunya yang belum berkuliah. Bergantian dengan kakaknya, beliau mengurusi kegiatan domestik di rumah, mengantar adiknya ke sekolah dengan sepeda,  menyiapkan air hangat untuk Mamah mandi,  memastikan ada lauk untuk makan,  memotivasi Mamah untuk latihan berjalan,  menyusun agenda berjemur sang pasien, dan yang paling penting adalah menemaninya mengobrol supaya tidak jenuh.  

Memiliki anak yang berbakti tentu menjadi cita-cita setiap orang tua.  Dalam hal ini,  saya patut berterimakasih kepada Mamah.  Alhamdulillah, salah satunya karena didikan dan cintanya, suami bisa menjadi lelaki yang bertanggung jawab dengan semua perannya. 

Kesehatan Mamah cukup stabil ketika akhirnya suami mendapat pengumuman kelulusan masuk Institut Teknologi Bandung.  Meski nantinya harus berjauhan kembali,  Mamah ikut berbahagia mendengar kabar ini. 

Keadaan ekonomi yang pas-pasan membuat suami tidak bisa sering pulang ke Majalengka. Beliau pun belum memiliki ponsel pribadi sehingga hanya bisa meninggalkan nomor telepon teman, jika keluarga perlu menghubunginya.

Hari itu terjadi ketika pekan UAS tiba.  Tinggal satu ujian lagi,  suami berencana ke Majalengka setelahnya.

Mungkin ini yang namanya ikatan batin,  ketika kondisi Mamah drop, suami sempat merasa gelisah. Demi menghalau kegelisahannya, beliau berjalan kaki cukup jauh, dari Dago menuju Pasir Koja, tempatnya tinggal di Bandung bersama bapaknya. 

Keesokan harinya, melalui temannya yang ditelepon kerabat dari kampung,  barulah beliau tahu bahwa Mamah telah berpulang. Ada sedikit penyesalan karena tidak menemani di saat terakhirnya,  tapi tentu saja kita wajib mengimani semua yang terjadi adalah kehendak-Nya.

Setelah menikah, sempat beberapa kali suami berkata, "Kalau Ibu ketemu sama Mamah kayanya bakal cocok deh,  sama-sama seneng ngobrol.". Setelahnya, akan ada sedikit lanjutan cerita tentang Mamah. 

Ya, saya pun menyadari sesungguhnya kalimat tersebut merupakan salah satu ungkapan kerinduannya kepada sang ibunda.

***

Mah,  insyaAllah,  nanti kita ngobrolnya di surga yaa bareng sama anak-anak.  Alhamdulillah pada seneng ngobrol dan papasakan kaya mamah ...

Alhamdulillah, Asep juga sehat mah,  makin soleh, dan tambah kasep. 

You must be proud when you see him now ...

Allohummagfirlaha warhamha wa'afiha wa fu anha

12.4.21

Black is Beauty (2)

"Nu ieu mah hideung nyalira, nya?"  Ujar seorang kerabat jauh saat lebaran tiba. Kalimat tersebut diarahkan kepada saya yang saat itu berusia sekitar enam tahun. Si anak kedua yang katanya berkulit gelap tidak seperti kakak dan adiknya. 

Menjadi anak tengah, konon katanya suka beda sendiri dengan yang lainnya. Entah mitos atau fakta. Pada kenyataannya, secara fisik memang saya cukup berbeda, terutama bagian warna kulit. Kakak dan adik berkulit putih seperti Mamah, sedangkan saya mewarisi kulit gelap Papah. 

Alhamdulillah,  Allah anugerahkan sifat cuek pada diri ini. Jadi,  saat ada komentar kurang enak seperti di atas, Anggun  kecil bisa menanggapinya dengan cukup santai dan tidak terlalu ambil pusing. Komentar-komentar bernada serupa pun pada akhirnya tertutupi dengan berbagai prestasi yang saya raih. 

"Wah,  hebat rangking satu!"
"Keren,  bisa ikutan olimpiade IPA!"
"Alhamdulillah,  nemnya besar bisa masuk sekolah favorit, ya!"

Namun,  kecuekan ini sedikit memudar ketika saya memasuki fase ABG (Anak Baru Gede). Fase ketika penampilan fisik adalah salah satu pendongkrak rasa percaya diri.

Saya ingat pernah suatu hari saya mandi cukup lama.  Menggosok semua badan dengan sabun berulang kali sambil berharap warna kulit ini akan luntur.  Tentu saja, harap itu tidak menjadi nyata. Sedikit kesal,  tapi ya mau bagaimana lagi kan?  Alhamdulillah,  saat itu enggak sampai kepikiran untuk berendam pakai b*yclin saja ... hahaha.

Tentu saja, saya juga sempat melirik produk perawatan kulit yang klaimnya memutihkan.  Namun,  mungkin karena saya yang kurang rajin atau memang klaimnya hanya sebuah hiperbola dalam iklan, kulit saya tidak seperti Santi yang akhirnya seputih Sinta.  (Yang hafal iklan ini berarti kita seangkatan.) 

Percaya diri saya baru sedikit meningkat ketika akhirnya ada seorang teman yang menyatakan cinta.  Eh ternyata, meski hitam,  ada yang naksir juga ya ... hahaha.

Semakin besar, saya pun menyadari kecantikan itu tak selalu berupa hal fisik saja seperti kulit putih,  badan langsing, atau rambut lurus.  Lebih dari itu,  kecantikan itu juga datang dari hati,  kepribadian, dan kepintaran. Alhamdulillah,  setelahnya saya bisa lebih percaya diri dan mensyukuri karunia Ilahi.

Dan ternyata, sejarah berulang terkait si anak tengah. Anak saya yang kedua seperti ibunya, berwarna kulit lebih gelap dibandingkan kakak dan adiknya.

Pengalaman kurang menyenangkan saat kecil dulu seharusnya memberi saya pelajaran bahwa rasa percaya dirinya harus ditumbuhkan sejak kecil. Sayangnya, saya malah lupa akan hal ini,  kemudian secara tidak sadar malah menyakiti perasaan anak sendiri terkait warna kulitnya. Kisahnya pernah saya tulis di sini

Ya,  saya,  ibunya yang menyakitinya,  bukan orang lain.  Kejadian tersebut membuat penyesalan mendalam bahkan sampai saat ini.  Namun, tentu banyak hikmah yang bisa diambil. Saya belajar memaafkan diri sendiri, belajar meminta maaf pada anak, dan bonding kami pun lebih erat.  

Saat ini,  kalau dia disinggung soal warna kulitnya, sudah bisa berkata, "mirip ibu kan yaa,  hitam manis." 

Alhamdulillah, betul, Kak! Black is beauty. 😊


29.3.21

Our Little Chefs

Sejak berusia empat tahunan, anak-anak terbiasa ngerecokin ibunya di dapur. Terkadang hanya ikut bermain masak-masakan dengan peralatan dapur, di lain waktu menjadi asisten ibu bagian mengupas bawang atau mengaduk adonan. Bukan hanya karena mereka perempuan saja maka saya mengajak terjun ke dapur sejak dini, melainkan karena saya merasa banyak manfaat yang bisa didapatkan. Mereka berkegiatan positif, belajar berhitung, belajar membaca resep, belajar mengenal berbagai macam bahan makanan, bonusnya mereka lebih lahap makan jika ikut terlibat dalam pembuatannya. Meski tentu saja, berkegiatan di dapur bersama anak-anak ada konsekuensi yang harus ditanggung. Dapur menjadi jauuuuuh lebih berantakan ... hahaha. 

Di masa pandemi ini, memasak menjadi salah satu agenda penghilang kebosanan bagi kami. Memang aneh ya selama di rumah saja, kok rasanya mulut ini sulit untuk berhenti mengunyah dan perut ini cepat sekali laparnya. Akhirnya, dapur menjadi salah satu tempat favorit.

Awalnya, anak-anak yang saat ini sudah berusia tujuh dan sembilan tahun hanya menjadi asisten koki. Mereka membantu ibu membuat adonan cireng, cilok, cimol, cilor, dan geng per-aci-an lainnya. Sudah bisa juga membantu mengiris bawang, sosis, baso, kentang, atau wortel. Memasak nasi, menggoreng telur, atau membentuk donat dan roti pun sudah semakin handal. Sampai akhirnya mereka keranjingan nonton serial Masterchef di salah satu stasiun televisi, kemudian tertantang untuk membuat masakan sendiri, tak hanya menjadi asisten saja.

"Bu, Bi ... bikin challenge dong buat kita kaya di Masterchef. Dikasih tema gitu, masak apa, " dua anak gadis itu meminta. 

Saya sempat bilang, "enggak usah challenge segala deh, masak bareng aja." Maksud hati sih biar enggak perlu berkompetisi antar saudara. Namun, mereka keukeuh, supaya lebih seru katanya. Akhirnya, Abi pun memberi tantangan membuat nasi goreng.

Mereka semangat sekali menyambut tantangan dari abinya. Ada yang meminjam gawai untuk menggoogling resep nasi goreng yang enak. Ada yang bertanya resep rahasia neneknya. Sampai akhirnya, hari yang dinanti tiba. Tantangan pun dijalankan. Kali ini ibu yang menjadi asisten, memastikan mereka menggunakan peralatan dapur dengan aman. 

Nasi goreng hongkong ala Devina Hermawan dan nasi goreng spesial dipertandingkan. Nenek dan Kakek menjadi jurinya karena waktu itu kami sedang tinggal di rumah mereka. Ketika tiba waktu penjurian, Abi sempat bertanya, "Sudah siap kalah? soalnya semua orang pasti siap menang, tapi belum tentu siap kalah.", kemudian dijawab oleh salah satu peserta, "insya Allah siap, tapi kan siapa tahu aku yang menang." ... hahaha. Alhamdulillah, positive thinking, ya.

Kakek dan Nenek sempat dibuat bingung dengan penjuriannya. Tentu saja karena alasan emosional, kasih sayang kepada cucu, takut ada yang nangis karena kalah ... hihihi. Namun, malah para peserta yang meyakinkan para juri, it's okay, kami siap kok. Ternyata yang sudah yakin menang yang malah kalah. Anaknya kecewa? sedikit, tapi alhamdulillah tak ada tangisan dan challenge ditutup dengan makan nasi goreng bersama yang di luar dugaan, rasanya enaaaaak. Pantas juri sempat bingung tadi.

nasi goreng hongkong

nasi goreng spesial

Setelah itu, agenda di dapur semakin seru. Selain challenge, ada juga agenda memasak bersama untuk berbagi kepada teman-teman mereka via drive thru. Makaroni schotel dan bakpao yang sudah jadi diantar ke rumah teman-temannya sambil sekalian jalan-jalan. Meski hanya bertemu di pagar rumah dengan berjarak, lumayan cara ini sedikit melepaskan rindu bertemu teman-teman. 

makaroni schotel siap diantar ke rumah teman-teman

Challenge tentu saja masih berlanjut. Bulan lalu, dengan menu ayam, mereka memasak chicken steak dan ayam geprek yang membuat kami ternganga, "kok enaaaak.". Alhamdulillah, sudah bisa bikin sambal dan saus steak, Pemirsa! 



Pekan lalu, challenge membuat puding yang dilalui. Puding oreo dan puding jeruk mewarnai kulkas kami. Alhamdulillah, membuat saya istirahat sejenak dari membuat camilan untuk anak-anak. Lucunya, bukan skenario yang disengaja oleh kami, tapi pemenang challenge-nya bergiliran. Yah, mungkin diatur oleh-Nya, gantian giliran masak yang lebih enaknya, biar sama-sama pernah merasakan jadi juara. 

Alhamdulillah, salah satu hikmah pandemi bagi kami adalah lahirnya koki-koki kecil ini di rumah. Semoga kelak menjadi istri binangkit yang bisa membahagiakan keluarga dengan masakan-masakannya.

22.3.21

Ketika Mamah Mager Bergerak

Kesehatan menjadi hal yang terasa sangat berharga terutama di masa pandemi seperti sekarang ini. Banyak hal yang dilakukan demi menjaganya. Masker dan hand sanitizer menjadi barang wajib ketika keluar rumah. Stok sabun cuci tangan menjadi lebih cepat habis dari sebelumnya. Berjemur mulai menjadi agenda rutin banyak orang. Minuman herbal yang konon katanya meningkatkan imunitas pun mulai tenar, mulai dari jamu,  wedang empon-empon,  sampai madu hangat ditambah perasan lemon.

Semangat berolahraga masyarakat pun meningkat. Terbukti dengan naiknya harga sepeda di masa awal pandemi karena permintaan yang melonjak.

Sebagai anggota mamah mager alias malas gerak, berolahraga merupakan tantangan terbesar bagi saya. Rasanya kerjaan domestik di rumah saja sudah membuat lelah. Sampai akhirnya, suami berinisiatif membelikan sepeda untuk istrinya.

Ditambah,  akhir tahun lalu komunitas Mamah Gajah Berlari (MGB)  membuat challenge untuk bergerak minimal empat jam dalam seminggu. Setiap pekannya, panitia membuat report pencapaian dari para pesertanya. Ada peringkat dan ada pula hadiah yang akan diundi untuk peserta yang berhasil menyelesaikan tantangan. Meski mager, saya berbakat ambisius seperti mamah gajah pada umumnya ... hahaha. Jadilah ikut tantangan tersebut. 

Alhamdulillah, akhirnya berubah status juga menjadi mamah ager (agak gerak).  Sampai berjalan untuk membeli cabai ke warung saja sengaja memilih rute yang memutar supaya jauh. Tak lupa,  mengaktifkan aplikasi strava agar terekam pergerakannya ... hahaha.

Saat ini,  alhamdulillah, saya mulai terbiasa berolahraga. Badan pun terasa lebih prima. Jika tidak bisa keluar rumah karena harus menjaga anak-anak, saya memilih menggunakan video dari youtube untuk panduan berolahraga di rumah.  Kanal Walk With Leslie menjadi salah satu favorit. Selain karena gerakannya yang mudah,  pakaian yang digunakannya pun cukup sopan sehingga aman jika terlihat anak-anak yang biasanya ikut ngerecokin ibunya.

Saya pun mulai suka bersepeda. Salah satu motivasinya adalah rasa bersalah kalau sepeda, hadiah dari suami, berujung terbengkalai. Terkadang bersama suami,  kami menjadwalkan bersepeda sebagai salah satu agenda berpacaran. Tentunya ketika anak-anak ada yang bisa menjaga di rumah. Ini juga semakin memotivasi saya. Setelah beranak tiga,  semakin sulit rasanya punya waktu berduaan.

Bersepeda di hari ulang tahun pernikahan.
Judulnya anniversary ride ke tempat akad.

Dua bulan ini,  kami tinggal di Indramayu untuk menemani suami yang sedang bekerja di kota mangga. Di sini,  agenda bersepeda pun menjadi agenda keluarga. Semua diboyong,  kak!  Gimana donk,  enggak ada yang bisa jadi tempat menitipkan anak di rantau mah ... hahaha. 

 konvoi

Tentu saja semakin menyenangkan bersepedanya. Jalanan Indramayu pun tak seramai di Bandung, sehingga kami berani untuk membawa anak-anak bersepeda keluar komplek perumahan. Terlebih tak jauh dari rumah kami ada pantai yang bisa dijadikan destinasi bersepeda. Anak-anak tentu senang sekali karena sudah lama tidak piknik. 


hidden gem di tengah pemukiman warga




Kami selalu berusaha sepagi mungkin sudah sampai di pantai supaya belum ramai. Setelah puas bermain air,  kami langsung pulang. Iya,  basah-basahan sambil bersepeda. Mandinya di rumah saja. Alhamdulillah, jam sembilan di Indramayu itu terasa seperti jam sebelas. Kurang lebih 20 menit perjalanan ke rumah dengan baju basah tetap terasa berjemur, tidak kedinginan, sehingga meminimalisir kemungkinan masuk angin ... hihihi. 

Salah satu cita-cita kami ketika pandemi usai nanti adalah bersepeda di dalam kampus ITB.  Sudah terbayang serunya bersepeda di jalanan kampus yang rindang dengan pepohonan, sambil bernostalgia dan bercerita pada anak-anak tentang masa-masa remaja ibu dan abinya. 

Semoga bisa segera terlaksana. 

Matematika Kehidupan

Saya pernah bertanya-tanya, apa kesukaan kita pada sesuatu hal itu bisa bersifat genetik, ya?  

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, saya suka sekali pelajaran matematika. Konon, papah saya pun demikian. Beliau rajin bercerita tentang bagaimana nilai-nilainya dulu di pelajaran berhitung ini nyaris selalu sempurna. Beliau pun terjun langsung mengajari putra-putrinya ketika itu menyangkut pelajaran matematika.  Namun,  untuk pelajaran yang berkaitan dengan hafalan, beliau malah sedikit acuh. 

Eh ... atau sebenarnya kesukaan saya pada matematika ini adalah hasil doktrinisasi dari beliau juga, ya? Hahaha ... Bisa jadi. 

Alhamdulillah, nilai matematika saya di sekolah pun tidak mengecewakan, cenderung membanggakan. Ini berlanjut sampai ketika saya duduk di bangku SMA. Oleh karena itu, ketika tiba waktunya memilih jurusan di dunia perkuliahan, matematika menjadi yang pertama terlintas di pikiran.

Seorang teman sempat berkata, "kamu mah milih kuliah teknik juga bisa masuk atuh, insya Allah.",  kemudian saya bergidik sendiri mendengar kata 'teknik'. Rasanya kata itu dekat sekali dengan fisika,  pelajaran yang paling tidak saya suka. Namun, keinginan masuk Institut Teknologi Bandung begitu kuat, jadi ya sudah, pilih matematika saja.

Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) pun dimulai. Saya mengerjakan soal-soal matematika dasar dengan penuh semangat. Berharap menjadi ladang nilai yang membantu poin kelulusan saya nanti. Setelah ujian, saya mencocokkan jawabannya via radio yang bekerja sama dengan bimbingan belajar. Ah, sayang sekali, ternyata salah sedikit matematika dasarnya, malah jawaban fisika saya yang betul semua. Wah, kok bisa?  Katanya enggak suka? Yah, karena saya hanya menjawab tiga soal dan ketiganya benar semua, alhamdulillah ... hahaha.

Ada sebuah petuah bijak dari guru bimbingan belajar saya ketika itu, "kalau kamu kesulitan di pelajaran tertentu, kerjakan saja minimal tiga soal tapi yakin betul semuanya. Insya Allah tetap lulus spmb-nya."  
Alhamdulillah, ternyata petuahnya benar. Ketika pengumuman SPMB terbit, saya lulus, pemirsa! Akhirnya, jadi anak ITB juga. Di hari itu, saya pun pergi ke sekolah (SMA) dengan bangga. 

Di hari pengumuman SPMB, tradisi sekolah kami memang memajang spanduk berisi daftar nama lulusan beserta tempat kuliahnya di dinding sekolah. Karena termasuk sekolah favorit, hampir 70% siswanya lolos seleksi nasional. Sisanya tetap banyak yang lulus di perguruan tinggi swasta ternama.

Ada seorang teman yang bertanya hari itu, "masuk mana, gun?"
"matematika ITB."
"oh, pilihan dua yaa"
"eh, enggak ko, pilihan pertama ... " jawab saya sambil berlalu. Sang teman pun tersenyum kaku. Beginilah nasib diterima di jurusan yang kurang bergengsi ... hihihi. Namun, awkward moment tadi tetap tidak mengurangi kebahagiaan saya di hari bersejarah itu.

Hari - hari di kampus pun dimulai. Alhamdulillah, masa TPB dilalui dengan cukup lancar. Setelah itu,  saya pun bersiap masuk ke perkuliahan di jurusan.

Duh, apa-apaan ini! Matematika perkuliahan kok ternyata beda banget dengan matematika sekolah. Mari kita sebut nama-nama mata kuliahnya : Aljabar Linier,  Kalkulus Peubah Banyak, Pengantar Persamaan Diferensial, Matematika Diskrit,  Analisis Kompleks ...  Ooh, mengapa sesuatu yang sudah kompleks harus dianalisis segala?

Saya mulai merasa salah jurusan saat itu. Namun, mau bagaimana lagi kan? Saya hanya bisa meratapi dan mencukupkan diri dengan nilai-nilai yang berupa rantai karbon.

Sampai akhirnya di tingkat empat, saya menemukan satu mata kuliah pilihan yang pada akhirnya menjadi salah satu penentu jalan hidup setelah lulus kuliah nanti,  Pengajaran Matematika Sekolah. 

Ya, ini gue banget! Matematika sekolah! Kuliah yang seru. Membangkitkan kembali jiwa ke-matematika-an saya yang sempat meluruh diterjang badai kalkulus. Ujian akhir dari kuliah PMS ini adalah praktek langsung mengajar matematika di sekolah. Satu hari menjadi ibu guru. Wah, seru! 

Hari itu, saya mengajar di almamater tercinta, SMPN 1 Cimahi. Awalnya hanya akan mengajar di satu kelas, tapi akhirnya diberdayakan oleh guru saya dulu untuk mengajar di tiga kelas ... hahaha.  Sukses membuat suara serak. Sukses pula membuat hati mantap, setelah lulus nanti, mau jadi guru

wah, ternyata saya masih menyimpan foto tahun 2006.
Ketika ujian praktek mata kuliah Pengajaran Matematika Sekolah


Alhamdulillah, cita-citanya tercapai. Lulus dari ITB, tak lama kemudian saya pun mengajar di salah satu sekolah swasta islam di Cimahi. Saya menjadi guru matematika di sekolah tersebut selama 2,5 tahun sampai akhirnya resign karena menikah dan merantau bersama suami tercinta. 

Sampai saat ini, menjadi guru masih merupakan salah satu pengalaman yang paling menyenangkan dalam hidup. Sebagian memori bersama murid-murid, saya abadikan juga di blog, seperti ini, ini, ini dan ini. Membacanya masih sering membuat saya tertawa, sama seperti dulu ketika saya tertawa saat diheureuyan oleh salah seorang murid untuk tidak membeli siomay di Jakarta. 

"Emang kenapa, A, kok gak boleh beli siomay di Jakarta?" tanya saya yang kebetulan saat itu memang sedang jajan siomay di jam istirahat. 

"Jangan, Bu. Soalnya,  JAUH! " jawabnya.

Hahaha. KZL! 

Terkadang, kehidupan itu memang seperti matematika, ya. Perlu melalui banyak tahapan dulu sampai akhirnya menemukan jawaban yang paling tepat. Sempat terjebak dan merasa salah jurusan, pada akhirnya saya tetap bersyukur melewati semuanya karena akhirnya saya menjadi tahu apa yang saya mau.

 Alhamdulillah 'Ala Kulli Hal.

***

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog di bulan Maret 2021. Tantangannya adalah menuliskan tentang alasan mengapa memilih kuliah di jurusan masing-masing. Alhamdulillah, jadi sedikit bernostalgia dan membuat hati hangat, terimakasih MGN! 


15.3.21

Ketika Abi Pulang Kerja

Setelah menikah dan beralih profesi menjadi ibu rumah tangga, ada satu waktu yang paling saya tunggu di setiap harinya, kecuali weekend. Biasanya waktu yang ditunggu itu menjelang magrib, tetapi terkadang dapat bonus menjadi malam hari.  Meski judulnya bonus,  rasanya menyebalkan karena jadi makin lama sendirian.  Ya, betul. Waktu yang ditunggu itu adalah ketika suami pulang kerja.

Ketika beliau pulang, saya akhirnya ada teman untuk mengobrol. Saya bisa bercerita hari ini ngapain aja kemudian bisa pamer dan menyantap bersama masakan yang telah saya buat dengan sepenuh hati untuk beliau. 

Setelah punya anak, ternyata terjadi persaingan. Biasanya yang dipeluk duluan adalah anaknya, istrinya belakangan ... hahaha. Namun, sebenarnya saya happy aja karena akhirnya partner mengasuh datang juga. 

Persaingan makin ketat ketika anaknya menjadi dua. Baru terdengar suara motornya saja, dua bocah sudah berhamburan ke pintu sambil berteriak, "Abiii ... ". Setelah itu, mereka akan berebutan minta digendong, bahkan ketika suami belum sempat menyimpan tasnya. 

Ketika akhirnya anaknya menjadi tiga, Ibu harap bersabar ... hahaha. (Udahlah buat teh manis aja dulu di dapur buat juragan.)

foto tahun 2014
 ketika dua bocah berebutan minta digendong

Setelah pandemi terjadi di Indonesia, ritual menyambut Abi ketika pulang kerja ini sedikit berubah. Kali ini, kami tidak bisa langsung mencium tangan dan memeluknya. Ada protokol kesehatan yang harus dijalankan. Semua peralatan yang dibawa disemprot terlebih dahulu dengan disinfektan. Setelah itu, Abi pun harus membersihkan badannya dulu sebelum akhirnya bisa bercengkrama dengan orang rumah. 

Repot? Sedikit. Namun, pekerjaan suami yang menuntut keluar rumah dan bertemu banyak orang membuat hal ini harus dijalankan.

Alhamdulillah, anak-anak bisa bersabar. Malah seringkali, mereka yang memastikan semprotan disinfektan ada di depan pintu rumah. Berulang kali juga, mereka memastikan saya sudah menyiapkan baju ganti untuk abinya di kamar mandi.

Ritual bersorak memanggil Abi saat beliau sampai di depan rumah tetap ada sih.  Namun, kali ini berjarak. Lucunya, terkadang dengan masih menjaga jarak, anak-anak ini sudah tak sabar untuk bercerita tentang segala macam. Sekali waktu, ada anak kecil yang tetap mengajak ngobrol abinya dari balik pintu kamar mandi ... hahaha. Yah, beginilah nasib lelaki yang memiliki empat wanita di rumahnya.  Harus bersabar dengan 20.000 kata dikalikan empat yang harus dikeluarkan oleh kami.


sabar menanti

kalau ini, ketika abi pulang bersepeda


Di balik segala kerepotannya setiap suami baru saja pulang ke rumah setelah beraktivitas di luar, kami bersyukur beliau masih diberikan kesehatan serta kemudahan dalam mencari rejeki untuk keluarga.

Semoga kita semua pun sehat selalu dan pandemi ini bisa segera berlalu.