28.2.21

Ampas Kecap Pelepas Rindu

Namanya adalah ampas kecap. Jenis makanan yang baru saya ketahui keberadaannya di muka bumi ini setelah menikah. Suami sempat bercerita bahwa salah satu masakan favoritnya adalah tumis ampas kecap buatan ibunda. Sungguh waktu itu enggak terbayang bentuknya seperti apa, pun rasanya bagaimana. 


Sesuai namanya, ampas kecap merupakan sisa hasil pengolahan produksi kecap. Meski berupa ampas, kacang kedelai hitam ini masih layak diproses menjadi bahan makanan lain. Kandungan proteinnya pun masih cukup baik.


Ampas kecap tentu saja banyak ditemui di daerah penghasil kecap seperti Cirebon, Majalengka, Indramayu, atau Kuningan. Suami berasal dari Majalengka, maka tak heran kalau beliau mengenal ampas kecap sejak kecil. Jadi, sebetulnya wajar juga sih kalau saya belum pernah tahu tentang makanan ini. Mana ada pabrik kecap di Bandung mah. 


Pertemuan pertama saya dengannya terjadi ketika sedang berwisata kuliner di Cirebon. Salah satu destinasi favorit kami adalah RM Nasi Jamblang Bu Nur. Rumah makan yang sering bikin galau dikarenakan kepingin ambil semua masakan yang dijejerinnya hahaha. Memang pada dasarnya rewog aja ya, pemirsa! Sampai akhirnya, di antara pepes rajungan, balakutak, ayam goreng,  saya melihat si hitam ini. Tumisan hitam yang terlihat ramai dengan cabai dan bawang. Suami tentu saja langsung bersorak melihatnya. Oh, ini toooh yang namanya ampas kecap. Lalu bagaimana rasanya?


Guriiiih nan pedaaas. Terlalu pedas kalau kata saya yang di RM Bu Nur ini. Mata suami sampai berair ketika memakannya. Eh, entah karena saking terharunya ya? hihihi. Seperti sambel, tumisan ini cocok sekali disandingkan dengan nasi hangat. Kacang kedelainya empuk karena sudah melalui dua kali proses pemasakan. Menurut saya sih dibuat pedas mungkin untuk mengimbangi bau fermentasinya. Alasan yang sama untuk ramainya bawang di dalam tumisannya. Jadi, kesimpulannya tumis ampas kecap itu enaaak, pemirsa. Selamat nambah nasi terus-terusan deh pokoknya. Sejak saat itu, mulai terbayang bagaimana rasanya salah satu masakan favorit suami ini. Lalu bercita-cita dalam hati, insya allah mau masakin buat beliau ah suatu hari nanti.


Alhamdulillah, cita-citanya tercapai ketika akhirnya kami tinggal di Indramayu mengikuti penugasan beliau. Pagi itu saya berbelanja ke pasar. Ketika sibuk memilih sayuran, mata saya menangkap bungkusan kacang kedelai hitam yang sudah dipaketkan dengan peuteuy selong atau lebih dikenal dengan sebutan petai cina. Memang katanya tumisan ampas kecap ini khasnya ditambahkan petai cina.


Masih ragu, akhirnya saya bertanya, "Bu, ini tuh ampas kecap?"

"Iya, neng."

Meski sudah bercita-cita untuk masakin, sesungguhnya diri ini masih insecure. Takut dibandingin rasanya sama hasil masakan ibundanya tercinta terus kalah jauh😆. Tapi yah niat membahagiakan suami, akhirnya dibeli juga ampas kecapnya.


Bumbu tumisannya sendiri sederhana, yaitu irisan bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, dan bawang daun. Dibumbui sedikit kaldu bubuk tanpa tambahan garam karena ampasnya sendiri sudah asin. Kali ini kadar kepedasannya dibuat sesuai selera kami.



Ketika akhirnya disuguhkan di hadapan suami, beliau senang sekali. Beliau mencicipi kemudian langsung berkomentar, "enaaak, Bu. Selevel sih ini ama buatan mamah." Huwaaaaaaa... terharuuuu. Hati makin hangat ketika beliau memfoto masakan istrinya tersebut kemudian memajangnya di status Whatsapp, hahaha sampai dipamerkan pada dunia. Alhamdulillah.


Semoga bisa mengobati sedikit kerinduan kepadanya, ya, Abi.

Allohummagfirlaha warhamhaa wa'aafihaa wa'fu'anhaa. 


23.2.21

time travel

Tahun 2007 - 2010, saya sempat menjadi seorang guru matematika di sebuah MTs di Cimahi. Murid - murid saya ketika itu, kini sudah menjelma menjadi seorang dewasa. Cukup banyak yang masih berkontak ria via sosial media. Kadang lucu mengingat mereka yang dulu masih memakai seragam putih biru, kini sudah menjadi bapak-bapak atau ibu-ibu. Bahkan sudah ada yang beranak dua, menuju tiga.  Mau nyamain gurunya.  

Beberapa waktu lalu, ada seorang murid yang ngejapri di instagram untuk berkonsultasi tentang proses penyapihan anaknya. Bodor yaa, dulu mereka nanyanya tentang rumus luas lingkaran sekarang tentang penyapihan. 

Kemudian jadi teringat pernah menuliskan tentang proses penyapihan dua anak saya di blog.  Akhirnya saya kirim linknya sambil baca lagi apa sih yang dulu ditulis.  

Ketika itu, dua bocah yang diceritain di blog melihat sekilas layar hape ibunya.

"Bu, foto siapa tuh? Aku ya waktu bayi?"

"Iya"

"Ih itu tentang apa? "

"Cerita waktu teteh kaka disapih"

"Mau bacaaa"

Akhirnya bacaan sebelum tidur di malam itu adalah blog ibu bab penyapihan. Membahas tentang asi, nursing while pregnant,  pentingnya sounding, sampai weaning with love. Sungguh pembelajaran dunia parenting sejak dini hahaha.

Di setiap akhir tulisan tentang penyapihan, saya sempat membuat surat untuk mereka.  Ketika dulu nulis, sempat terpikir sih suatu hari nanti mereka bakal baca beneran. Pas akhirnya kejadian malam itu, duh hatiku kasuat-suat liat mereka baca sambil senyum-senyum sendiri. Di suratnya banyak ungkapan cinta sih yaa, yang mana sekarang mah banyak ketilep ama omelan cinta, gara-gara lalila ngerjakeun tugas daring atau udah bikin rumah berantakan hahaha. Maaf kiddo, but yaa i love you that much!  Sejak dulu sampai sekarang dan selamanya.

Lalu setelah baca dua cerita tentang penyapihan, mereka nanya,  

"yang cerita adel disapih mana, bu? " 

"eh..  euuu.. ga bikin di blog, adanya di instagram"

Cuma dikit pula ceritanya 🙈 duh maaf ya adel,  ibu sedang terjangkit virus malas waktu itu. Belang betong nulis blognya. Memang instagram ini sempat menggantikan posisi blog dalam mengabadikan momen-momen penting kehidupan. Terasa lebih simpel aja sih. Meski kadang rindu juga nulis panjang-panjang di blog tanpa mikir mesti ngedit dan meringkas biar cukup di satu caption instagram. Emang hobina ngadongeng si ibu mah. 

Dan tau ga,  sejak malam itu,  anak-anak jadinya ketagihan.  Ketagihan baca blog!  Hahaha.  Kini blog ibu menggantikan buku-buku yang tiap malam dibaca sebelum tidur. Alhamdulillah, ternyata masih cukup banyak stok tulisan buat dibaca bareng di sini. 

Dan ternyata seru juga yaa bacain blog buat anak-anak. Seperti time travel. Mengingat lagi ternyata kita sempat liburan ke banyak tempat loh. Makasar, Lombok, Batu, sampai Lamongan. Lumayan buat dibaca pas pandemi gini, piknik virtual hihi. Seru dan terharu juga mengingat lagi proses lahiran anak-anak dan bikin mereka meluk ibunya pas selesai baca. 

Waktu dulu nulis, ga macem-macem sih mikirnya,  ya nulis aja.  Eh ternyata pas dibaca bareng-bareng di masa sekarang seru dan menyenangkan. Bikin hangat hati. Alhamdulillah, jadinya termotivasi lagi buat tutulisan di sini.

Seakan direstui, eh ternyata ada sub grup baru juga di ITB Motherhood yang ternyata lagi bikin challenge : Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog. Temanya udah dibikin buat setauneun donk,  pemirsa! 

Pas nih buat dijadikan momen kembali ngadongeng di bagja salawasna. 

Well,  sekarang mah semoga si ibu bisa lebih istiqomah yaa.  Berbagi kisah,  berbagi hikmah,  atau mungkin berbagi sampah. Sampah pikiran di otak maksudnyaaaa wkwk..  Biar ga penuh isinya. 

Dan,  mari kita awali dengan bismillah.