31.5.21

Lima Resep Olahan Nasi Sisa

Tantangan blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini adalah menuliskan resep masakan andalan di hari spesial. Wow, menarik, ya! Meski tetap karena ke-sok-sibuk-an saya, ujungnya jadi tim deadliner juga. 😆



Sebenarnya saya cukup sering menulis resep masakan di Instagram dengan tagar #dapuribuanggun, tapi biasanya yang saya tulis adalah resep masakan sehari-hari. Ketika dihadapkan pada resep andalan di hari spesial, saya malah jadi bingung mau menulis apa. 

Kami tidak merayakan ulang tahun, jadi saya tidak pernah memasak khusus di hari tersebut. Kalau hari raya,  biasanya saya jadi tim dimasakin oleh Mamah. Baru lebaran tahun ini saya masak sendiri,  tapi itu pun menggunakan bumbu instan. Kan enggak lucu kalau saya hanya ngopi paste petunjuk pemakaian di balik kemasannya ke sini, hahaha.

Akhirnya, saya memutuskan mau berbagi resep mudah yang semoga bermanfaat saja deh karena setiap hari itu terasa spesial asalkan kita berkumpul bersama orang-orang tersayang bukan?  😁

Makanan Yang Hampir Setiap Hari Ada

Ada yang masuk tim kalau belum makan nasi,  belum kenyang? Katanya sih ini ciri khas orang Indonesia. Meski sudah makan roti, mie, atau kentang,  rasanya belum afdhol kalau belum makan nasi dan lauk pauknya. 

Alhasil, nasi itu seperti jadi makanan wajib yang hampir setiap hari ada di rumah. Namun, kadang-kadang jumlahnya melebihi prediksi porsi makan keluarga. Berujung adanya nasi sisa, sedangkan lauknya mah udah kemana. 

Sebagai anggota tim anti mubazir, tentu saja paling sedih kalau nasinya berujung dibuang.  Jadilah, seringkali nasi sisa tersebut saya olah kembali.

Berikut ini lima resep andalan saya dalam mengolah nasi sisa. 

1. Nasi Goreng

Wah,  kalau ini sih menu yang paling sering, paling mudah,  dan paling umum dimasak oleh semua orang dengan menggunakan nasi sisa kan, ya? 

Saya mau berbagi tips memasak nasi goreng yang nikmat ala tukang nasi goreng tek-tek keliling saja deh.

Tips :
1. Masukkan nasi sisa ke dalam kulkas terlebih dahulu sebelum dimasak. Nasi yang keras dan dingin akan membuat nasi gorengnya tidak lengket dan bumbu lebih meresap. 

2. Gunakan baceman bawang. Baceman bawang ini adalah bawang putih cincang yang direndam dalam minyak. Saat pembuatannya, pastikan bawang putih dan alas mencincangnya kering, ya! Tidak boleh ada air yang masuk.  

Kita bisa menstok baceman bawang ini di dalam kulkas dengan sebelumnya dibiarkan dulu dalam suhu ruang selama satu hari. Jika proses pembuatan dan pengambilannya bersih serta kering,  baceman bawang bisa kuat hingga tiga bulan.  Tumisan dan nasi/mie goreng akan lebih wangiiii jika dimasak menggunakan baceman bawang ini.

Nasi goreng putih. Salah satu favorit keluarga.

2. Arancini atau Bola-bola Nasi

Katanya,  arancini ini makanan yang berasal dari Italia.  Kalau bahasa gampangnya sih bola-bola nasi. Ini salah satu makanan favorit anak-anak saya.  Ibunya pun senang karena dalam satu makanan ini sudah komplet gizinya. Kita bisa memasukkan karbohidrat, protein, dan sayuran sekaligus. One dish meal. Isiannya pun bisa bermacam-macam, disesuaikan dengan yang ada di rumah.

Langsung diserbu begitu matang

Membuatnya pun mudah, hanya saja membutuhkan ketelatenan dalam membulat-bulatkan nasi dan melumurinya dengan tepung panir. Jadi, membuat bola-bola nasi ini disarankan kalau lagi luang saja, ya! Nasinya pun enggak usah banyak-banyak. Kalau kebanyakan, lelah ngebuletinnya, Pemirsa! 

Bahan :
- 1 mangkok nasi
- Nugget/sosis/baso/ayam matang,  potong kecil-kecil
- Sayuran : wortel parut,  buncis potong kecil,  atau apa pun sesuai selera
- Kecap asin secukupnya
- Keju parut secukupnya
- 1 buah telur
- Terigu secukupnya
- Tepung panir secukupnya

Cara membuat :
1. Campurkan nasi dengan protein hewani dan sayuran dalam mangkok.  Aduk rata. 
2. Bumbui dengan kecap asin
3. Tambahkan keju.  Aduk rata kembali. 
4. Ambil satu sendok campuran nasi.  Taburi dengan terigu. Wajib ditaburi terigu, ya!  Kalau tidak, akan sedikit sulit untuk membentuk bulatan. Bulatkan dengan menggunakan kepalan tangan.
5. Gulingkan bulatan nasi dalam telur kocok.
6. Baluri dengan tepung panir. 
7. Goreng sampai kecoklatan. 
8. Bola-bola nasi siap dinikmati

Pilihan pas juga untuk bekal sekolah


3. Bubur Hongkong

Bubur hongkong ini adalah salah satu comfort food saya. Buburnya saja tanpa topping pun rasanya sudah lezat. Namun,  tentu saja toppingnya pun akan semakin menambah kenikmatan.

Bahan : 
- 1 mangkok nasi
- 3 gelas air
- 3 potong ayam.  Pisahkan daging dan tulangnya. Tulang digunakan untuk merebus bubur. Daging dicincang untuk topping bubur. 
- 1 butir bawang bombay
- 3 butir bawang putih
- Minyak wijen secukupnya
- Kaldu bubuk secukupnya
- Gula, garam,  merica secukupnya

Topping :
- Telur. Bisa dibuat untuk telur dadar atau direbus. 
- Cakue. Tidak usah meribeti diri dengan membuat sendiri, ya! Eh,  kecuali Anda memang rajin. Saya sih seringnya beli di tukang cakue terdekat,  hahaha. 
- Pangsit goreng. Saya biasanya membeli kulit pangsit kemasan, mengguntingnya menjadi empat bagian, kemudian menggorengnya sampai kecoklatan. 
- Irisan bawang daun. 
- Chili oil. Di bawah ini nanti akan saya sertakan cara membuatnya yang super cepat. Rahasianya adalah b*ncabe!  Ya,  si cabe bubuk yang sudah berbumbu. 

Berikut ini tahapan cara membuat bubur hongkong ala saya :
1. Tumis bawang putih dan bawang bombay dengan minyak yang agak banyak. Perkirakan minyak akan cukup untuk membuat chili oil, perasa bubur, dan tumisan ayam cincang untuk topping. 
2. Tambahkan minyak wijen. 
3. Setelah wangi, ambil sekitar 3 sendok makan minyak bawang tersebut. Campurkan dengan satu bungkus b*ncabe di dalam mangkok. Chili oil sudah siap. 
4. Masukkan tulang ayam ke dalam sisa tumisan bawang.  Masak sampai harum.  Masukkan tulang dan bawang ke dalam panci berisi air dan nasi (sisakan sedikit minyak bawangnya, ya. Nantinya akan digunakan untuk menumis ayam cincang). 
4. Rebus nasi sambil diaduk sampai menjadi bubur. Bisa dijuga dimasak dengan menggunakan panci presto.Tentu saja, dengan menggunakan panci presto akan sangat menghemat waktu dan tenaga. Jangan lupa tambahkan kaldu bubuk ke dalam bubur.
4. Sisa minyak bawang digunakan untuk menumis ayam cincang.  Bumbui dengan gula,  garam,  merica dan kaldu bubuk. 
5. Bubur bisa dihidangkan dengan topping yang sudah disiapkan. 



Chili oil sungguh menambah kenikmatan


4. Pizza Nasi

Nah,  kalau yang satu ini paling sering saya buat karena praktis untuk dijadikan menu sarapan. Nama kerennya saja pizza nasi,  padahal sebenarnya ia adalah dadar nasi,  hahaha.

Cara membuatnya sangat mudah.  Berikut ini tahapannya :
1. Pilih isian yang akan digunakan.  Biasanya saya menggunakan sosis,  baso,  nugget,  atau ayam matang. Semuanya diiris tipis. 
2. Campurkan isian tadi dengan nasi.
3. Tambahkan telur,  kemudian aduk rata. 
4. Bumbui dengan kaldu bubuk. 
5. Dadar di wajan datar sampai kecoklatan.  Hati-hati saat membaliknya. Kalau sampai sobek atau hancur, nanti gagal jadi pizza donk. Bisa juga dibalik dengan bantuan piring agar tetap bulat sempurna. 
6. Sesudah matang,  hidangkan dengan olesan saos dan taburan keju parut.

Pizza nasi tanpa taburan keju karena habis, hihihi.

5. Nasi Coklat

Masakan ini bukan berasal dari beras coklat, ya,  tapi literally nasi putih yang dicampur dengan coklat.  Mungkin banyak yang belum familiar dengan jenis makanan satu ini.  Nasi kok dibuat manis. Wah,  Anda harus coba karena rasanya enaaaak.

Menu ini salah satu andalan saya di masa MPASI ketika anak-anak sudah boleh mengonsumsi gula. Tentu saja mereka suka. Coklat gitu loh! 

Cara membuat :
1. Panaskan 1 kemasan susu UHT coklat. Jika ingin mengatur kadar gulanya bisa juga menggunakan susu UHT plain yang ditambahkan bubuk coklat dan gula secukupnya. 
2. Tambahkan nasi ke dalam rebusan susu,  aduk rata. 
3. Tambahkan kurma potong/ kismis dan irisan kecil apel.
4. Masak sampai susu menyusut. 
5. Siap dihidangkan dengan taburan keju. Bisa juga dimasukkan ke dalam kulkas, kemudian disajikan dingin. 

Bisa dijadikan bekal juga

Cemilan berat padat kalori untuk anak


Itulah lima resep olahan nasi sisa yang bisa saya bagikan. Semoga bermanfaat, ya! Terhindar dari kemubaziran terasa bagai salah satu prestasi untuk emak-emak, bukan?  

Happy cooking!

24.5.21

Bukan Keluarga Cemara, Meski Punya Becak

Suatu hari di tahun 2014, ketika kami masih tinggal di Surabaya, suami sempat berkata,  "Beli sepeda mahal-mahal, yang bisa dibonceng cuma satu. Mending beli becak sekalian, ya, bisa kebawa semua." Waktu itu,  saya iya-iya-in saja. Beliau memang hobi mengeluarkan ide-ide kreatif. Namun, saya tidak menyangka ternyata urusan becak ini beneran dieksekusi.

Beberapa hari setelahnya, becak bekas yang dijual pemiliknya karena sudah beralih ke becak motor parkir manis di depan rumah kami. Becak yang berhasil membuat anak-anak terpukau.  "Ini beneran becaknya teteh? Becak kita?" tanya si sulung dengan takjub. Begitulah bapakmu, Nak, sering out of the box, hahaha. 

Pertemuan pertama

Tiga minggu setelahnya jadi momen penuh keseruan buat kami. Kegiatan harian diwarnai dengan mencicil mendandani becak. Mulai dari mengelas dan mengecatnya, memilih kain untuk tudungnya, mencari tukang sol sepatu yang mempunyai jarum besar untuk menjahit tudung tadi,  sampai menyervis sang becak ke bengkel agar lebih nyaman dipakai.

Mengecat bersama


Akhirnya sang becak pun bisa digunakan. Tujuan perjalanan pertama kami adalah Indomaret depan komplek untuk membeli sampo bergambar Minnie Mouse dengan hasil tabungan pertama Teteh Thifa yang saat itu berusia tiga tahun. Sungguh perjalanan yang memorable.

Setelah itu, sang becak pun mewarnai hari-hari kami dan menemani ke banyak tempat. Ia mengantarkan kami ngabuburit keliling komplek, membeli sayur ke pasar, mencari sarapan ke McDonald, sampai belanja bulanan ke Lotte Mart. Ternyata menyenangkan juga memakai becak karena tidak perlu bayar parkir dan dapat bonus semriwing angin, hahaha. 

Para tetangga biasanya menyapa sambil terpukau ketika kami lewat. Mereka ikut tersenyum melihat anak-anak yang girang digowesin Abinya. Para tukang becak sekitar rumah pun sering melambaikan tangan. Tak lupa, mereka juga sering memberikan tips untuk merawat si kendaraan roda tiga ini.

Bagasinya di depan, hahaha.

Becak ini pun selalu mengikuti kepindahan kami ke berbagai kota. Becak Jawa timur ini mengembara sampai ke Jawa Barat. Ia ikut kami pindah ke Bandung dan Indramayu. Setiap kali pindahan, para tukang angkut takjub karena ada becak yang ikut serta masuk truk.


Sang becak mampir ke Sport Jabar Arcamanik



Di Indramayu, penumpangnya nambah satu


Pernah satu kali menjelang kepindahan kami dari Indramayu kembali ke Bandung, saya memberi ide untuk menjual sang becak. Suami menolak dengan tegas, "Enggak ah, mau dibawa lagi. Nanti kita cari rumah yang bisa buat parkir becak juga." Bahkan setelah itu, sang becak pun di- make over oleh beliau, menjadi lebih cantik dengan cat merah muda dan tudung baru berbahan kulit sintetis.

penampilan baru

Terkadang, ide-ide kreatif beliau memang mengejutkan kami. Namun, itu juga yang membuat hidup kami menjadi lebih seru dan berwarna. Dan ternyata beliau pun sering menyimpan alasan yang manis di baliknya, termasuk soal becak ini. 

Di salah satu momen pillow talk kami, beliau sempat berkata, "Abi mah beli becak teh pengen ngasih kenangan manis aja sih buat anak-anak di masa kecilnya. Semoga nanti mereka inget terus, ya." 

Ah, hatiku pun menghangat mendengarnya.
Terima kasih, Abi!


3.5.21

Manisnya Sebuah Perjuangan

Kalau membahas tentang pendidikan,  saya termasuk yang memiliki privilege untuk menikmatinya tanpa kesulitan berarti. Meski harus mengalami tiga kali pindah sekolah saat SD karena mengikuti kepindahan orang tua,  saya selalu bisa bersekolah di tempat yang baik dan disediakan segala fasilitas pendukungnya oleh orang tua.

Berbeda dengan suami, untuk mengenyam pendidikan tinggi, beliau harus melalui perjuangan yang cukup berat dan panjang. Alhamdulillah, beliau memiliki pendukung utama yang selalu bersemangat ikut berjuang,  bapaknya.

Bapak mertua, qadarulloh, menjadi seorang yatim piatu sejak kecil. Ia harus berjuang mengumpulkan biaya sendiri untuk bersekolah. Hobinya adalah membaca, terutama tentang politik dan sejarah. Karena sulit mendapatkan buku, papan baca koran menjadi alternatif bacaannya.

Cita-citanya adalah masuk sekolah kejuruan. Sayangnya, uang yang berhasil dikumpulkan untuk biaya sekolah, hilang entah kemana saat beliau akan pergi mendaftar. Cita-citanya yang kandas ini akhirnya dititipkan pada anak laki-lakinya. 

Sejak anaknya kecil, Bapak sangat peduli perihal pendidikannya. Meski tidak memasukkan anaknya ke TK karena keterbatasan ekonomi, beliau selalu membesarkan hati sang anak dengan berkata,  "teu nanaon, diajar di bumi weh ku Apa."

Bapak serius akan hal ini. Suatu hari, beliau pulang dengan membawa papan tulis besar yang kemudian menjadi media sekolah-sekolahan di rumah. Usahanya tidak sia-sia. Sebelum memasuki SD, suami sudah lancar membaca, menulis,  dan berhitung.

Alhamdulillah saat bersekolah, prestasi suami pun cukup cemerlang. Beliau langganan menjadi juara kelas. Beliau pun aktif mengikuti perlombaan mewakili sekolah,  mulai dari lomba cerdas cermat sampai siswa teladan. Tentu saja rasa bangga Bapak pun membuncah. Hal ini terlihat dengan selalu hadirnya Bapak di setiap kesempatan anaknya mengikuti perlombaan. 

Saat memasuki SMP, suami bersekolah cukup jauh dari rumah.  Bapak dengan setia mengantarnya memakai sepeda. Sampai akhirnya, alhamdulillah terkumpul juga dana untuk membeli sepeda lain,  sehingga suami bisa memakai sepeda sendiri menuju sekolah. 

Menjelang SMA, suami sempat meminta untuk bersekolah di dekat rumah saja. Sekolah negeri favorit juga,  meski bukan urutan teratas. Alasannya sih karena jarak, tapi sebenarnya yang utama karena teman-temannya banyak yang berniat masuk ke sana juga, hahaha. Balada ABG, hobi mengikuti arus kemana teman pergi.  Bapak tentu menolak. Beliau bersikeras anaknya harus bersekolah di sekolah terbaik,  sekolah urutan teratas, walaupun jauh dari rumah.   

Cita-cita Bapak terpenuhi. Suami lulus masuk sekolah unggulan terbaik di Bandung. Hari itu, hari pertama suami menjadi murid SMA, Bapak terlihat dari kejauhan, duduk di atas sepedanya dengan bangga, menatap anaknya yang mengikuti upacara penerimaan siswa baru di sekolahnya.

Tidak usah ditanya, bagaimana bangganya Bapak ketika akhirnya anaknya menjadi mahasiswa institut yang katanya terbaik di Indonesia. Walaupun ternyata berjuang untuk lulus dari sana pun tidak mudah, terutama soal biayanya.  Bapak dan suami sangat bekerja keras untuk itu. Mencari beasiswa, rajin berjualan, ngajar privat sana-sini untuk bekal, bahkan seringkali sampai menginap di kampus supaya bisa menghemat ongkos pulang. Alhamdulillah, saat ini mereka berdua sudah bisa merasakan manisnya hasil dari sebuah perjuangan yang panjang.

Saya patut bersyukur diberi kemudahan dalam menuntut ilmu di bangku sekolah. Namun, kadang saya pun merasa iri (in a positive way) dengan banyaknya hikmah yang bisa suami rasakan dari perjuangannya berpayah-payah dalam bersekolah. Saat ini, koleksi ceritanya pun jadi lebih banyak dan seru buat dibagikan kepada anak-anak. Ibu kalah saing deh, hahaha.