Postingan

Menampilkan postingan dengan label tantangan magata

Surat Cinta Untukmu

Gambar
Pertama kali melihatmu, rasanya biasa saja.  Ada aneh campur ragu dengan melihat  segala keunikan yang kau punya. Sangsi pun hadir, meragukan rasa yang kau suguhkan.  Namun katanya, tak kenal maka tak sayang.  Semakin lama mengenalmu, tiba-tiba ada rasa yang tak biasa.  Semakin terbiasa dengan hadirmu, ada rindu yang tiba-tiba menyergap.  Ah, lalu aku bisa apa?  Apa ini yang namanya cinta ? Keunikanmu, Kehangatanmu, Beragam karaktermu, Mulai mewarnai hari-hariku. Saat sepi melanda, kau salah satu yang kuingat.  Saat galau menghampiri, maka ku ingin kau ada di sisi.  Saat bahagia datang, kamu pun ikut terbayang. Bahkan saat ku lapar, kau hadir di ingatan.   Apakah benar ini cinta ?  Karena terkadang, aku pun mulai merasa kehilangan.  Jika memang ini benar  cinta , sungguh ku akan mensyukuri keberadaannya.  Karena artinya, Tuhan masih ijinkanku untuk merasa.  Terima kasih untuk segala kehangatan yang kau hadir...

tips menjaga kewarasan ibu rumah tangga

Katanya menjadi ibu rumah tangga itu mudah stres karena harus menghadapi rutinitas harian yang cenderung membuat jenuh. Terlebih jika ibu tersebut memiliki balita yang masih sangat bergantung kepadanya. Berikut ini beberapa tips yang bisa saya bagikan untuk menjaga kewarasan seorang ibu rumah tangga. Tentu saja pengaplikasiannya bisa berbeda untuk setiap ibu karena setiap rumah tangga pun berbeda kondisinya, tapi tidak ada salahnya dicoba kan?  1. Delegasikan pekerjaan kepada pihak lain Pekerjaan rumah tangga itu rasanya tidak pernah ada habisnya, sebut saja tumpukan baju dan piring kotor, lantai berdebu, baju kusut yang harus disetrika, belum lagi makanan yang harus tersaji di meja untuk keluarga. Terkadang tidak semua bisa dikerjakan oleh kita. Jika Bunda memiliki rejeki lebih, tidak ada salahnya mendelegasikan pekerjaan tersebut kepada pihak lain, seperti ART (Asisten Rumah Tangga),  laundry kiloan, catering , ataupun tenant  Go Food. Selain berbagi rejeki, beban hid...

titik balik

Pernah ada hari-hari di tahun 2015, ketika saya banyak melamun, sering over thinking , sangat sensitif, tak jarang tiba-tiba meneteskan air mata tanpa alasan. Kalau dipikirkan sekarang, tampaknya kelelahan mempunyai dua batita dan tinggal di rantau menjadi salah dua pemicunya. Ditambah ketika itu, saya pun sedang sakit yang memerlukan pengobatan yang cukup panjang. Kemudian ada satu ujian hidup lainnya yang menghampiri juga dengan tiba-tiba. Salah satu tahun terberat dalam hidup. Sampai akhirnya di satu akhir pekan, saya bersama suami dan anak-anak akan pergi ke suatu tempat untuk menjalankan agenda rutin setiap weekend tiba. Perjalanannya cukup jauh. Selama perjalanan, saya banyak diam, membiarkan anak-anak bermain berdua. Saat mulai melamun sambil menatap jendela itu lah, tiba-tiba rasanya mata basah. Terlalu banyak yang dipikirkan, terlalu banyak yang dirasakan.  Tanpa saya sadari, ternyata ada yang memperhatikan. Tiba-tiba arah mobil pun berubah, putar haluan, bukan ke tempat ...

roasted chicken tanpa oven

Gambar
Oven adalah salah satu alat rumah tangga yang sampai saat ini belum kami miliki. Salah satu alasannya karena masih nomaden dari satu kota ke kota lain mengikuti penugasan suami. Jadi, kami cukup selektif dalam membeli barang.  Sebagai yang memiliki hobi menonton video resep masakan dan mempraktikkannya, tentu saja oven ini masuk wishlist barang idaman. Ada beberapa resep yang pada akhirnya jadi tidak bisa saya eksekusi. (Alasan, padahal sebenarnya malas, hahaha )  Salah satu resep yang selalu membuat saya kabita adalah roasted chicken. Banyak yang bilang makanan yang satu ini mudah membuatnya, tapi rasanya mewah. Akan tetapi, tak ada oven, ya gimana mau bikin kan?  Sampai suatu hari, seorang teman di sebuah grup WA komunitas memasak berkata, "Bisa kok bikin roasted chicken tanpa oven, pake double pan aja." Wah, saya langsung tertarik untuk mengeksekusi. Salah satu merek yang terkenal untuk alat masak yang satu ini adalah happy call .  Jeng Hepi ini memang salah sa...

Gorengan Favorit

Gambar
Saya termasuk pecinta gorengan. Meski sudah tahu bahwa jenis makanan ini sebetulnya kurang sehat, masih sulit rasanya untuk menghindarinya.  Hampir semua gorengan saya suka, mulai dari bala-bala , gehu, mendoan, cireng sampai ulen . Namun, ada satu yang paling jadi favorit. Dia adalah comro. Comro ini adalah akronim bahasa sunda dari oncom di jero .  Kalau menurut KBBI, comro adalah penganan dari singkong yang diparut, dibentuk bulat panjang, di dalamnya diisi oncom yang dibumbui, kemudian digoreng.  Jajanan Kesukaan Dulu saat pulang kuliah, saya harus melalui perjalanan empat kali naik angkot menuju rumah. Di tempat turun angkot yang ketiga, yaitu perempatan jalan Baros, ada satu tukang gorengan yang selalu mangkal . Comronya jadi favorit saya. Rasanya, saya hampir selalu menyempatkan beli setiap kali lewat. Comronya dimakan di angkot terakhir, lumayan jadi pengganjal perut lapar setelah perjalanan panjang. Mungkin inilah cikal bakal kesukaan saya pada gorengan yang satu...

ITB Motherhood

Gambar
Grup ITB Motherhood terbentuk di facebook pada tahun 2010. Seorang teman yang membuatnya, dilatarbelakangi kondisinya sebagai ibu baru yang sering kali butuh teman diskusi dalam membersamai anaknya. Saya menjadi anggota di tahun awal terbentuknya. Selain karena tahu dari teman tersebut, di tahun 2011 alhamdulillah saya pun diamanahi janin di perut ini. Saya merasa perlu belajar karena tentunya ini dunia baru donk buat saya.   Rasanya seru deh setiap membuka grup. Saya bisa membaca pengalaman orang lain ketika hamil dan melahirkan, mengikuti diskusi hangat seputar dunia parenting, mengetahui tips seputar menyusui, atau melihat bahasan tentang mpasi. Saat itu saya masih menjadi silent reader. Barulah menjelang melahirkan di bulan Oktober 2011, saya memberanikan diri membuat satu postingan di grupnya. Ketika itu saya sedang sedikit galau,  pasalnya baru saja divonis terkena pre-eklampsia di minggu ke-37 kehamilan. Ada pula kemungkinan harus dioperasi ses...

Alarm Hidup

Gambar
Menjadi manusia yang ramah lingkungan adalah satu tantangan besar buat saya. Adakah yang merasakan hal yang sama? Rasanya butuh energi besar untuk mulai melangkah, bahkan dengan hal yang kecil,  seperti meminimalisir sampah dari rumah.  Hal ini tentunya akan jauh lebih berat ketika dilakukan sendirian. Oleh karena itu, hal pertama yang saya lakukan ketika berniat untuk mulai ikut aksi ramah lingkungan adalah dengan membeli buku!  Hah ?  Kok beli buku?  Iya, saya membeli buku komik "Keluarga Minim Sampah" karya penulis cilik Keni (10 tahun). Keni ini adalah putri dari D.K Wardhani, seorang penulis buku anak dan aktivis lingkungan. sumber : instagram @dkwardhani Tentu saja buku ini untuk dibaca bersama dengan anak-anak di rumah. Alhamdulillah, buku ini membantu saya dalam memberikan pemahaman kepada mereka tentang isu besar di bumi kita saat ini, serta memberikan bayangan tentang hal-hal apa saja yang bisa kami lakukan untuk menjaga lingkungan. Selain...

Manisnya Sebuah Perjuangan

Kalau membahas tentang pendidikan,  saya termasuk yang memiliki privilege untuk   menikmatinya tanpa kesulitan berarti. Meski harus mengalami tiga kali pindah sekolah saat SD karena mengikuti kepindahan orang tua,  saya selalu bisa bersekolah di tempat yang baik dan disediakan segala fasilitas pendukungnya oleh orang tua. Berbeda dengan suami, untuk mengenyam pendidikan tinggi, beliau harus melalui perjuangan yang cukup berat dan panjang. Alhamdulillah, beliau memiliki pendukung utama yang selalu bersemangat ikut berjuang,  bapaknya. Bapak mertua,  qadarulloh,  menjadi seorang yatim piatu sejak kecil. Ia harus berjuang mengumpulkan biaya sendiri untuk bersekolah. Hobinya adalah membaca, terutama tentang politik dan sejarah. Karena sulit mendapatkan buku, papan baca koran menjadi alternatif bacaannya. Cita-citanya adalah masuk sekolah kejuruan. Sayangnya, uang yang berhasil dikumpulkan untuk biaya sekolah, hilang entah kemana saat beliau akan pergi mendaftar...

Black is Beauty (2)

"Nu ieu mah hideung nyalira, nya?"   Ujar seorang kerabat jauh saat lebaran tiba. Kalimat tersebut diarahkan kepada saya yang saat itu berusia sekitar enam tahun. Si anak kedua yang katanya berkulit gelap tidak seperti kakak dan adiknya.  Menjadi anak tengah, konon katanya suka beda sendiri dengan yang lainnya. Entah mitos atau fakta. Pada kenyataannya, secara fisik memang saya cukup berbeda, terutama bagian warna kulit. Kakak dan adik berkulit putih seperti Mamah, sedangkan saya mewarisi kulit gelap Papah.  Alhamdulillah,  Allah anugerahkan sifat cuek pada diri ini. Jadi,  saat ada komentar kurang enak seperti di atas, Anggun  kecil bisa menanggapinya dengan cukup santai dan tidak terlalu ambil pusing. Komentar-komentar bernada serupa pun pada akhirnya tertutupi dengan berbagai prestasi yang saya raih.  "Wah,  hebat rangking satu!" "Keren,  bisa ikutan olimpiade IPA!" "Alhamdulillah,  nemnya besar bisa masuk sekolah favorit, ya!" Namun,...

Our Little Chefs

Gambar
Sejak berusia empat tahunan, anak-anak terbiasa ngerecokin ibunya di dapur. Terkadang hanya ikut bermain masak-masakan dengan peralatan dapur, di lain waktu menjadi asisten ibu bagian mengupas bawang atau mengaduk adonan. Bukan hanya karena mereka perempuan saja maka saya mengajak terjun ke dapur sejak dini, melainkan karena saya merasa banyak manfaat yang bisa didapatkan. Mereka berkegiatan positif, belajar berhitung, belajar membaca resep, belajar mengenal berbagai macam bahan makanan, bonusnya mereka lebih lahap makan jika ikut terlibat dalam pembuatannya. Meski tentu saja, berkegiatan di dapur bersama anak-anak ada konsekuensi yang harus ditanggung. Dapur menjadi jauuuuuh lebih berantakan ... hahaha.  Di masa pandemi ini, memasak menjadi salah satu agenda penghilang kebosanan bagi kami. Memang aneh ya selama di rumah saja, kok rasanya mulut ini sulit untuk berhenti mengunyah dan perut ini cepat sekali laparnya. Akhirnya, dapur menjadi salah satu tempat favorit. Awalnya, anak-a...

Ketika Mamah Mager Bergerak

Gambar
Kesehatan menjadi hal yang terasa sangat berharga terutama di masa pandemi seperti sekarang ini. Banyak hal yang dilakukan demi menjaganya. Masker dan hand sanitizer menjadi barang wajib ketika keluar rumah. Stok sabun cuci tangan menjadi lebih cepat habis dari sebelumnya. Berjemur mulai menjadi agenda rutin banyak orang. Minuman herbal yang konon katanya meningkatkan imunitas pun mulai tenar, mulai dari jamu,  wedang empon-empon ,  sampai madu hangat ditambah perasan lemon. Semangat berolahraga masyarakat pun meningkat. Terbukti dengan naiknya harga sepeda di masa awal pandemi karena permintaan yang melonjak. Sebagai anggota mamah   mager alias malas gerak, berolahraga merupakan tantangan terbesar bagi saya. Rasanya kerjaan domestik di rumah saja sudah membuat lelah. Sampai akhirnya, suami berinisiatif membelikan sepeda untuk istrinya. Ditambah,  akhir tahun lalu komunitas Mamah Gajah Berlari (MGB)  membuat challenge untuk bergerak minimal empat jam dalam...

Ketika Abi Pulang Kerja

Gambar
Setelah menikah dan beralih profesi menjadi ibu rumah tangga, ada satu waktu yang paling saya tunggu di setiap harinya, kecuali weekend. Biasanya waktu yang ditunggu itu menjelang magrib, tetapi terkadang dapat bonus menjadi malam hari.  Meski judulnya bonus,  rasanya menyebalkan karena jadi makin lama sendirian.  Ya, betul. Waktu yang ditunggu itu adalah ketika suami pulang kerja. Ketika beliau pulang, saya akhirnya ada teman untuk mengobrol. Saya bisa bercerita hari ini ngapain aja kemudian bisa pamer dan menyantap bersama masakan yang telah saya buat dengan sepenuh hati untuk beliau.  Setelah punya anak, ternyata terjadi persaingan. Biasanya yang dipeluk duluan adalah anaknya, istrinya belakangan ... hahaha . Namun, sebenarnya saya happy aja karena akhirnya partner mengasuh datang juga.  Persaingan makin ketat ketika anaknya menjadi dua. Baru terdengar suara motornya saja, dua bocah sudah berhamburan ke pintu sambil berteriak, "Abiii ... ". Setelah itu, mer...

this too shall pass

Ada satu momen kehidupan yang tak pernah saya lupakan di tahun 2015. Ketika itu, saya mengalami penurunan berat badan yang cukup drastis disertai gejala batuk yang tak kunjung sembuh. Akhirnya setelah melalui serangkaian pemeriksaan medis,  saya pun divonis menderita penyakit TBC. Rasanya campur aduk sekali saat itu. Lega karena akhirnya penyakitnya diketahui, sekaligus khawatir karena ternyata penyakitnya menular. Namun, satu hal yang paling membuat patah hati adalah kenyataan bahwa suami dan anak-anak sebagai orang terdekat harus langsung dites mantoux saat itu juga untuk mengetahui adanya penularan atau tidak. Kata dokter, lebih cepat lebih baik.  Suami berkata suntikannya sakit karena di bawah kulit. Anak-anak tanpa sounding terlebih dahulu harus ikut disuntik pula. Sakit,  kaget, dan takut bercampur jadi satu. Tangisan mereka membahana di rumah sakit saat itu. Saya hanya bisa memeluk pilu.  Duh...  Maaf ya,  Nak!  Gara - gara ibu... .  Sete...

Ampas Kecap Pelepas Rindu

Gambar
Namanya adalah ampas kecap. Jenis makanan yang baru saya ketahui keberadaannya di muka bumi ini setelah menikah. Suami sempat bercerita bahwa salah satu masakan favoritnya adalah tumis ampas kecap buatan ibunya. Sungguh waktu itu enggak terbayang bentuknya seperti apa, pun rasanya bagaimana.  Sesuai namanya, ampas kecap merupakan sisa hasil pengolahan produksi kecap. Meski berupa ampas, kacang kedelai hitam ini masih layak diproses menjadi bahan makanan lain. Kandungan proteinnya pun masih cukup baik. Ampas kecap tentu saja banyak ditemui di daerah penghasil kecap seperti Cirebon, Majalengka, Indramayu, atau Kuningan. Suami berasal dari Majalengka, maka tak heran kalau beliau mengenal ampas kecap sejak kecil. Sebagai yang menghabiskan masa kecil dengan berpindah-pindah kota, rasanya saya belum pernah tinggal di daerah penghasil kecap, jadi wajar kan yaa kalau saya tidak kenal makanan yang satu ini.  Pertemuan Pertama Kali pertama saya bertemu dengannya terjadi ketika sedang be...