30.4.21

Little Wisdom

Begitu tahu tantangan blogging Mamah Gajah Ngeblog di Bulan April ini adalah ulasan buku, saya langsung menatap koleksi tumpukan buku kepunyaan bocah di rumah.  Iya, sekarang ini koleksi buku mereka lebih banyak dibandingkan ibunya, mulai dari picture book, komik, ensiklopedia, sampai novel.

Akhirnya, dipilihlah satu novel yang baru saja diselesaikan oleh si sulung dalam waktu tiga hari. Novelnya bercerita tentang masa kecil seorang perempuan yang kelak di masa depannya akan menjadi seorang ibu hebat dari empat anaknya. Pas sekali dengan syarat tantangan kali ini yaitu ulasan buku tentang/yang ditulis oleh perempuan inspiratif. Alhamdulillah, tenang sudah hati ini. Bahan menulis sudah di tangan.

Hari pun silih berganti, sampai akhirnya tiba juga di penghujung bulan April. Namun, sang novel baru saja terbaca kurang dari sepuluh halaman. Duh!

Adakah yang bernasib sama seperti saya? Tak seperti zaman 'muda' dulu yang kalau belum tamat membaca satu buku rasanya enggak ingin tidur. Sekarang ini, baru membaca satu halaman saja, kok mata bawaannya langsung mengantuk. Anehnya, berbeda dengan saat menonton drama korea. Kalau sudah menonton satu episode, kok ya malah masih ingin nambah lagi, hahaha.

Akhirnya demi ikut tantangan, menjelang deadline, saya mengingat kembali buku-buku yang pernah saya baca. Ingatan mengajak saya pada satu buku parenting favorit sejak tahun 2018. Buku yang memberi kesan cukup mendalam di hati. Buku yang sebenarnya pernah saya ulas di satu tantangan menulis yang lain,  tapi kali ini mari kita ulas kembali dengan lebih lengkap. 

Buku ini ditulis oleh Reti Oktania, seorang ibu beranak dua yang saat ini berprofesi sebagai psikolog anak. Bukunya berjudul Little Wisdom. 


Buku Parenting yang Unik

Iya, Little Wisdom ini adalah sebuah buku parenting. Namun anehnya, tidak membahas banyak tentang teori parenting terkini. Pun tidak mengulas do's and dont's yang harus diketahui ketika menjadi orang tua. Buku sederhana ini 'hanya' berisikan dialog-dialog keseharian antara seorang ibu dan putrinya. Dialog yang menginspirasi sekaligus menohok di hati.

Buku ini memberikan warna lain tentang dunia parenting karena dilihat dari kaca mata seorang anak. Katya, anak sang penulis, tokoh utama dalam buku ini, yang ketika itu berusia lima tahun seringkali mengejutkan Mamanya dengan celetukan-celetukan bijaknya. Sampai akhirnya, Mama Reti pun mengabadikan percakapan-percakapan mereka dalam sebuah buku yang diberi judul "Little Wisdom".

Salah satu faktor yang membuat buku ini sangat berkesan untuk saya mungkin juga karena usia Katya yang tidak jauh berbeda dengan anak saya. Jadinya terasa relate dengan percakapan-percakapan yang terjadi.

Saya beberapa kali merasa disentil ketika membaca buku ini. Merasa sudah banyak tahu tentang ilmu parenting tapi ternyata sering terlewat memperhatikan perasaan anak. Apakah dia nyaman dengan yang sudah saya lakukan?  Apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan ketika tantrum? Atau apa yang dirasakannya ketika saya memilih time out mengurung diri sendirian di kamar ketika emosi sedang memuncak?

Katya memberikan banyak insight untuk hal-hal tadi di atas. Ketika sedang tantrum, sebenarnya dia merasa bingung dan yang diinginkannya adalah pelukan. Ketika Mamanya memilih time out sendirian untuk meredakan emosi ternyata dia merasa kesepian. Banyak pula hal bijak lainnya tentang kehidupan yang dituturkan oleh seorang Katya.




Dialog yang Paling Disukai

Dari banyak percakapan yang ditulis dalam buku ini,  ada satu yang paling saya suka. Dialog ini terjadi ketika Mama Reti melakukan kesalahan saat membantu Katya mewarnai gambarnya. Ketika itu,  Mama Reti meminta maaf atas kesalahannya dan Katya pun berkomentar, "It's OK Mama, don't be sad. People make mistakes and that's OK." 

Awww.. dituturkan oleh seorang anak berusia lima tahun, kalimat tersebut rasanya manis sekali yaa.


Menurut saya, kekritisan dan kebijaksanaan Katya tentu tidak tumbuh secara tiba-tiba. Setiap dialog yang berujung sebuah wisdom biasanya dibuka dengan open question dari Mamanya tentang sesuatu hal kemudian berlanjut dengan diskusi hangat seperti layaknya seorang teman. Satu hal yang saya kagumi dari penulis buku ini dan berusaha saya teladani.


Hal Lain dari Little Wisdom

Buku ini tidak melulu menonjolkan kebijaksanaan seorang gadis mungil, tapi juga menuliskan celetukan-celetukan polosnya Katya sebagai seorang anak kecil. Ada pula ilustrasi hasil karya Katya yang ditampilkan, selain ilustrasi dari ilustrator utama. Di akhir buku juga disisipkan sebuah cerita tentang gajah pecinta cupcake karya Mama Reti dan Katya. Cerita anak yang lucu nan berhikmah. Anak-anak saya pun suka.


Tidak Semua Anak Seperti Katya

Buku setebal 105 halaman ini bisa dibaca dalam sekali duduk. Bahkan, pernah suatu malam saya dan anak-anak menjadikannya sebagai bacaan pengantar tidur dan membahasnya bersama. Ketika itu terjadi obrolan berikut

 Ibu       : "Kalau lagi nangis gitu, Katya katanya seneng dipeluk. Kalau kalian gimana?"

Teteh    : "Iya, aku juga pengennya dipeluk sampai nangisnya udahan"

Ibu        : "Hoo gitu ya.. kalau Kaka?

Kaka     : "Enggak, aku enggak suka. Aku lebih pengen dicuekin aja, tar nyamperin sendiri"

Deg! Ketika itu pula saya menyadari ternyata setiap anak itu tidaklah sama. Apa yang mereka inginkan dan rasakan bisa berbeda. Tidak semua anak merasakan hal yang sama seperti yang Katya ceritakan. Namun, satu hikmah yang bisa saya ambil dari buku Little Wisdom adalah pentingnya kebijaksanaan orang tua untuk mau berdiskusi tentang hal tersebut bersama sang anak. Tentunya di waktu dan kondisi yang tepat. 

Well, terima kasih Katya dan Mama Reti sudah membuat buku yang bisa membuka mata dan menghangatkan hati.

Oh iya,  Katya saat ini sudah berusia 9 tahun. Masih menjadi gadis kecil yang bijaksana. Petuah bijaknya bisa dilihat di akun instagram Mama @retioktania.


Tentang Penulis

Saya termasuk salah satu follower instagram Mbak Reti Oktania sejak tahun 2015. Ketika itu,  Mbak Reti termasuk salah satu influencer instagram yang cukup aktif membuat postingan tentang aktivitas anak dan dunia parenting. Ketika akhirnya beliau menerbitkan buku ini, tentu saja saya berminat untuk membacanya.

Sebenarnya Mbak Reti ini merupakan kerabat mamah gajah karena bersuamikan seorang papah gajah, hehehe.  Mungkin itu juga ya yang membuat saya merasa dekat padahal kenal saja enggak,  hahaha. 

Mbak Reti sempat mengembara ke Jerman mengikuti penugasan suaminya. Di sana lah tempat Katya banyak mengeluarkan petuah bijaknya sampai akhirnya dibukukan. Sekitar tiga tahun lalu, Mbak Reti kembali ke Indonesia dan mengambil kuliah profesi psikologi klinis anak. 

Setelah resmi menjadi psikolog anak, beliau pun mulai aktif membuka biro konsultasi dan berbagi ilmu juga lewat akun instagram @thelittlewisdom_id. Wajib difollow, Buibu!  Banyak hal yang dibagikan di akun instagram ini yang bermanfaat dan mencerahkan. 


***





26.4.21

#dapuribuanggun

Saya suka memasak, meski enggak jago-jago amat. Sejauh bisa mengingat, pengalaman pertama saya dalam memasak adalah ketika memberi hadiah ulang tahun berupa bekal makan siang hasil masakan sendiri untuk seorang teman jaman kuliah tingkat dua dulu. Bekalnya berisi nasi, ayam goreng, dan sayur asem. Lengkap sekali,  bukan? 

Padahal sejujurnya, memasak yang saya maksud kala itu adalah menggoreng ayam yang sebelumnya sudah diungkep oleh Mamah dan memasak sayur asem yang bumbunya pun sudah diulek oleh Mamah ... hahaha. Meski saya sih tetap ngakunya masakan hasil sendiri, demi gengsi.

Mamah saya jago memasak. Beliau adalah lulusan SKKA (SMK pada jamannya) jurusan tata boga. Sayangnya, anak-anaknya jarang diajak terlibat dalam kegiatan di dapur. Setelah memiliki anak, saya bisa paham sih alasannya. Keonaran yang dihasilkan memang cukup lumayan ketika mengajak anak ikut memasak. 

Saya pun akhirnya baru benar-benar terjun ke dapur menjelang menikah. Alhamdulillah, teman yang dulu dihadiahi masakan tadi akhirnya menjadi teman hidup yang bisa saya masakin setiap hari. Alhamdulillah,  beliau juga tidak protes saat tahu sayur asem buatan saya ternyata tidak senikmat "masakan saya" dahulu ... hahaha.

Iya,  motivasi memasak itu akhirnya terbit setelah menikah, ditambah suami pun meminta kesediaan saya untuk menjadi ibu rumah tangga saja.  Memasak menjadi salah satu aktivitas seru yang bisa saya lakukan sehari-hari.

Namun, keinginan memasak itu terbenam perlahan seiring munculnya rasa mual di trimester awal kehamilan. Mencium bau bawang rasanya ingin muntah.  Akhirnya, saya pun absen cukup lama dari urusan perdapuran.

Motivasi itu bangkit kembali ketika anak memasuki usia mengonsumsi MPASI. Berbagai resep, saya coba. Berbagai komunitas memasak, saya ikuti.

Saat itu, media sosial pun mulai ramai.  Buat saya yang ekstrovert, tinggal di rantau, dan berkegiatan di rumah saja,  media sosial ini bisa menemani dan mengisi hari-hari. Selain untuk mencari ide resep masakan,  media sosial pun saya manfaatkan untuk berbagi hasil kreasi saya di dapur. Sampai akhirnya dengan sedikit tak tahu malu,  saya pun membuat tagar #dapuribuanggun.

Kesannya seperti chef  profesional,  padahal amatiran. Biasanya saya hanya berbagi resep mudah. Ya, lagipula kalau sulit, niscaya saya pun malas membuatnya.  Memasak lontong dengan rice cooker, cara cepat membuat jasuke, atau tips kilat mendapatkan chili oil adalah sedikit yang saya bagi di sana. Salah satu jalan untuk menyalurkan hobi menulis juga karena biasanya tak hanya resep yang saya bagi, tapi juga cerita di baliknya. 

Selama hampir sembilan tahun, #dapuribuanggun ini mengisi hari-hari saya. Meski kadang tagar ini hilang juga dari peredaran di dunia maya, biasanya kalau saya sedang malas masak atau lagi kepikiran, "nanaonan sih Nggun, kikieuan,  meni hayang eksis wae." ... hahaha.

Namun, ternyata menyenangkan ketika ada yang memberi komentar, "Gun,  ko udah lama ga posting resep sih,  aku suka ngikutin loh.". Wah,  ternyata dirindukan. 

Bahagia juga saat akhirnya berbagi resep dan ada yang berkomentar, "Wah pas banget, lagi cari resep ini. Mau buat ah,  kayanya gampang ya. Nuhun, gun."

Iya, bahagia ternyata bisa sesederhana itu, ketika mengetahui hal kecil yang kita lakukan bisa bermanfaat untuk orang lain. Saat itu, saya pun merasa menjadi seorang perempuan yang berdaya.

Alhamdulillah. 


Beberapa hasil karya di #dapuribuanggun



17.4.21

Mamah Ijoh

Wanita yang akan saya ceritakan ini adalah seorang ibu beranak tiga. Ketiga anaknya lelaki. Konon, beliau sesungguhnya sangat ingin memiliki anak perempuan. Namun, cita-citanya ini, qadarullah, belum kesampaian. 

Para keponakan perempuan akhirnya menjadi tempat ia melabuhkan kasih tak sampainya. Beliau ikut mendandani dan mengasuh mereka bagai anak sendiri. Sampai akhirnya, mereka pun ikut memanggilnya Mamah.

Mamah Ijoh, begitu beliau dikenal. Kalau saya dan anak-anak berkunjung ke kampung halamannya, kerabat yang bertemu biasanya akan berkata, "Joh.. ieu incu, Joh. Awewe kabeh." sambil menatap langit-langit dan menitikkan air mata mengingatnya. 

Iya, pada akhirnya beliau yang sangat mendamba anak perempuan memiliki tiga cucu perempuan. Sayangnya, beliau tidak sempat bertemu langsung dengan mereka.

Mamah Ijoh meninggal dunia pada tahun 2004, ketika suami masih menjadi mahasiswa tingkat pertama. Beliau telah tiada ketika akhirnya kami menikah. Saya memang belum pernah bertemu langsung dengannya, tapi tentu banyak mendengar cerita tentangnya.

Beliau terkenal dengan keahliannya dalam mengaji. Setiap kali ada acara keagamaan di kampungnya, beliau seringkali bertugas membacakan ayat suci.

Mamah juga andal dalam memasak. Masakannya selalu menjadi bagian dari cerita suami tentangnya, mulai dari sambal oncom sampai tumis ampas kecap. 

Pernah satu kali, suami yang memang terpisah jarak dengan Mamah sejak kecil karena bersekolah di Bandung mengajak temannya untuk ikut berlibur ke Majalengka, tempat Mamah tinggal. Ketika itu, tumis remis dihidangkan sebagai sajian.

Ternyata, menu sederhana ini mendapat sambutan yang luar biasa.  Sampai-sampai ketika sang teman kembali ke Bandung, ia bereksperimen di dapur untuk membuat tumisan yang sama, meski tentu saja sulit menyamai kelezatan buatan Mamah. 

Everything happens for reasons. Petuah ini rasanya pas dengan yang dirasakan suami ketika gagal lulus SPMB di tahun pertamanya. Selain bertemu saya di tahun berikutnya ... hehehe,  hikmah lainnya adalah beliau bisa fokus menemani Mamah yang ketika itu sedang sakit. 

Setahun terakhir kehidupannya, Mamah menderita komplikasi berbagai penyakit. Beliau sempat bolak balik dirawat, kemudian mengalami masa pemulihan cukup lama di rumah. 

Alhamdulillah, suami bisa mendampinginya di masa itu karena keleluasaan waktunya yang belum berkuliah. Bergantian dengan kakaknya, beliau mengurusi kegiatan domestik di rumah, mengantar adiknya ke sekolah dengan sepeda,  menyiapkan air hangat untuk Mamah mandi,  memastikan ada lauk untuk makan,  memotivasi Mamah untuk latihan berjalan,  menyusun agenda berjemur sang pasien, dan yang paling penting adalah menemaninya mengobrol supaya tidak jenuh.  

Memiliki anak yang berbakti tentu menjadi cita-cita setiap orang tua.  Dalam hal ini,  saya patut berterimakasih kepada Mamah.  Alhamdulillah, salah satunya karena didikan dan cintanya, suami bisa menjadi lelaki yang bertanggung jawab dengan semua perannya. 

Kesehatan Mamah cukup stabil ketika akhirnya suami mendapat pengumuman kelulusan masuk Institut Teknologi Bandung.  Meski nantinya harus berjauhan kembali,  Mamah ikut berbahagia mendengar kabar ini. 

Keadaan ekonomi yang pas-pasan membuat suami tidak bisa sering pulang ke Majalengka. Beliau pun belum memiliki ponsel pribadi sehingga hanya bisa meninggalkan nomor telepon teman, jika keluarga perlu menghubunginya.

Hari itu terjadi ketika pekan UAS tiba.  Tinggal satu ujian lagi,  suami berencana ke Majalengka setelahnya.

Mungkin ini yang namanya ikatan batin,  ketika kondisi Mamah drop, suami sempat merasa gelisah. Demi menghalau kegelisahannya, beliau berjalan kaki cukup jauh, dari Dago menuju Pasir Koja, tempatnya tinggal di Bandung bersama bapaknya. 

Keesokan harinya, melalui temannya yang ditelepon kerabat dari kampung,  barulah beliau tahu bahwa Mamah telah berpulang. Ada sedikit penyesalan karena tidak menemani di saat terakhirnya,  tapi tentu saja kita wajib mengimani semua yang terjadi adalah kehendak-Nya.

Setelah menikah, sempat beberapa kali suami berkata, "Kalau Ibu ketemu sama Mamah kayanya bakal cocok deh,  sama-sama seneng ngobrol.". Setelahnya, akan ada sedikit lanjutan cerita tentang Mamah. 

Ya, saya pun menyadari sesungguhnya kalimat tersebut merupakan salah satu ungkapan kerinduannya kepada sang ibunda.

***

Mah,  insyaAllah,  nanti kita ngobrolnya di surga yaa bareng sama anak-anak.  Alhamdulillah pada seneng ngobrol dan papasakan kaya mamah ...

Alhamdulillah, Asep juga sehat mah,  makin soleh, dan tambah kasep. 

You must be proud when you see him now ...

Allohummagfirlaha warhamha wa'afiha wa fu anha

12.4.21

Black is Beauty (2)

"Nu ieu mah hideung nyalira, nya?"  Ujar seorang kerabat jauh saat lebaran tiba. Kalimat tersebut diarahkan kepada saya yang saat itu berusia sekitar enam tahun. Si anak kedua yang katanya berkulit gelap tidak seperti kakak dan adiknya. 

Menjadi anak tengah, konon katanya suka beda sendiri dengan yang lainnya. Entah mitos atau fakta. Pada kenyataannya, secara fisik memang saya cukup berbeda, terutama bagian warna kulit. Kakak dan adik berkulit putih seperti Mamah, sedangkan saya mewarisi kulit gelap Papah. 

Alhamdulillah,  Allah anugerahkan sifat cuek pada diri ini. Jadi,  saat ada komentar kurang enak seperti di atas, Anggun  kecil bisa menanggapinya dengan cukup santai dan tidak terlalu ambil pusing. Komentar-komentar bernada serupa pun pada akhirnya tertutupi dengan berbagai prestasi yang saya raih. 

"Wah,  hebat rangking satu!"
"Keren,  bisa ikutan olimpiade IPA!"
"Alhamdulillah,  nemnya besar bisa masuk sekolah favorit, ya!"

Namun,  kecuekan ini sedikit memudar ketika saya memasuki fase ABG (Anak Baru Gede). Fase ketika penampilan fisik adalah salah satu pendongkrak rasa percaya diri.

Saya ingat pernah suatu hari saya mandi cukup lama.  Menggosok semua badan dengan sabun berulang kali sambil berharap warna kulit ini akan luntur.  Tentu saja, harap itu tidak menjadi nyata. Sedikit kesal,  tapi ya mau bagaimana lagi kan?  Alhamdulillah,  saat itu enggak sampai kepikiran untuk berendam pakai b*yclin saja ... hahaha.

Tentu saja, saya juga sempat melirik produk perawatan kulit yang klaimnya memutihkan.  Namun,  mungkin karena saya yang kurang rajin atau memang klaimnya hanya sebuah hiperbola dalam iklan, kulit saya tidak seperti Santi yang akhirnya seputih Sinta.  (Yang hafal iklan ini berarti kita seangkatan.) 

Percaya diri saya baru sedikit meningkat ketika akhirnya ada seorang teman yang menyatakan cinta.  Eh ternyata, meski hitam,  ada yang naksir juga ya ... hahaha.

Semakin besar, saya pun menyadari kecantikan itu tak selalu berupa hal fisik saja seperti kulit putih,  badan langsing, atau rambut lurus.  Lebih dari itu,  kecantikan itu juga datang dari hati,  kepribadian, dan kepintaran. Alhamdulillah,  setelahnya saya bisa lebih percaya diri dan mensyukuri karunia Ilahi.

Dan ternyata, sejarah berulang terkait si anak tengah. Anak saya yang kedua seperti ibunya, berwarna kulit lebih gelap dibandingkan kakak dan adiknya.

Pengalaman kurang menyenangkan saat kecil dulu seharusnya memberi saya pelajaran bahwa rasa percaya dirinya harus ditumbuhkan sejak kecil. Sayangnya, saya malah lupa akan hal ini,  kemudian secara tidak sadar malah menyakiti perasaan anak sendiri terkait warna kulitnya. Kisahnya pernah saya tulis di sini

Ya,  saya,  ibunya yang menyakitinya,  bukan orang lain.  Kejadian tersebut membuat penyesalan mendalam bahkan sampai saat ini.  Namun, tentu banyak hikmah yang bisa diambil. Saya belajar memaafkan diri sendiri, belajar meminta maaf pada anak, dan bonding kami pun lebih erat.  

Saat ini,  kalau dia disinggung soal warna kulitnya, sudah bisa berkata, "mirip ibu kan yaa,  hitam manis." 

Alhamdulillah, betul, Kak! Black is beauty. 😊