29.3.21

Our Little Chefs

Sejak berusia empat tahunan, anak-anak terbiasa ngerecokin ibunya di dapur. Terkadang hanya ikut bermain masak-masakan dengan peralatan dapur, di lain waktu menjadi asisten ibu bagian mengupas bawang atau mengaduk adonan. Bukan hanya karena mereka perempuan saja maka saya mengajak terjun ke dapur sejak dini, melainkan karena saya merasa banyak manfaat yang bisa didapatkan. Mereka berkegiatan positif, belajar berhitung, belajar membaca resep, belajar mengenal berbagai macam bahan makanan, bonusnya mereka lebih lahap makan jika ikut terlibat dalam pembuatannya. Meski tentu saja, berkegiatan di dapur bersama anak-anak ada konsekuensi yang harus ditanggung. Dapur menjadi jauuuuuh lebih berantakan ... hahaha. 

Di masa pandemi ini, memasak menjadi salah satu agenda penghilang kebosanan bagi kami. Memang aneh ya selama di rumah saja, kok rasanya mulut ini sulit untuk berhenti mengunyah dan perut ini cepat sekali laparnya. Akhirnya, dapur menjadi salah satu tempat favorit.

Awalnya, anak-anak yang saat ini sudah berusia tujuh dan sembilan tahun hanya menjadi asisten koki. Mereka membantu ibu membuat adonan cireng, cilok, cimol, cilor, dan geng per-aci-an lainnya. Sudah bisa juga membantu mengiris bawang, sosis, baso, kentang, atau wortel. Memasak nasi, menggoreng telur, atau membentuk donat dan roti pun sudah semakin handal. Sampai akhirnya mereka keranjingan nonton serial Masterchef di salah satu stasiun televisi, kemudian tertantang untuk membuat masakan sendiri, tak hanya menjadi asisten saja.

"Bu, Bi ... bikin challenge dong buat kita kaya di Masterchef. Dikasih tema gitu, masak apa, " dua anak gadis itu meminta. 

Saya sempat bilang, "enggak usah challenge segala deh, masak bareng aja." Maksud hati sih biar enggak perlu berkompetisi antar saudara. Namun, mereka keukeuh, supaya lebih seru katanya. Akhirnya, Abi pun memberi tantangan membuat nasi goreng.

Mereka semangat sekali menyambut tantangan dari abinya. Ada yang meminjam gawai untuk menggoogling resep nasi goreng yang enak. Ada yang bertanya resep rahasia neneknya. Sampai akhirnya, hari yang dinanti tiba. Tantangan pun dijalankan. Kali ini ibu yang menjadi asisten, memastikan mereka menggunakan peralatan dapur dengan aman. 

Nasi goreng hongkong ala Devina Hermawan dan nasi goreng spesial dipertandingkan. Nenek dan Kakek menjadi jurinya karena waktu itu kami sedang tinggal di rumah mereka. Ketika tiba waktu penjurian, Abi sempat bertanya, "Sudah siap kalah? soalnya semua orang pasti siap menang, tapi belum tentu siap kalah.", kemudian dijawab oleh salah satu peserta, "insya Allah siap, tapi kan siapa tahu aku yang menang." ... hahaha. Alhamdulillah, positive thinking, ya.

Kakek dan Nenek sempat dibuat bingung dengan penjuriannya. Tentu saja karena alasan emosional, kasih sayang kepada cucu, takut ada yang nangis karena kalah ... hihihi. Namun, malah para peserta yang meyakinkan para juri, it's okay, kami siap kok. Ternyata yang sudah yakin menang yang malah kalah. Anaknya kecewa? sedikit, tapi alhamdulillah tak ada tangisan dan challenge ditutup dengan makan nasi goreng bersama yang di luar dugaan, rasanya enaaaaak. Pantas juri sempat bingung tadi.

nasi goreng hongkong

nasi goreng spesial

Setelah itu, agenda di dapur semakin seru. Selain challenge, ada juga agenda memasak bersama untuk berbagi kepada teman-teman mereka via drive thru. Makaroni schotel dan bakpao yang sudah jadi diantar ke rumah teman-temannya sambil sekalian jalan-jalan. Meski hanya bertemu di pagar rumah dengan berjarak, lumayan cara ini sedikit melepaskan rindu bertemu teman-teman. 

makaroni schotel siap diantar ke rumah teman-teman

Challenge tentu saja masih berlanjut. Bulan lalu, dengan menu ayam, mereka memasak chicken steak dan ayam geprek yang membuat kami ternganga, "kok enaaaak.". Alhamdulillah, sudah bisa bikin sambal dan saus steak, Pemirsa! 



Pekan lalu, challenge membuat puding yang dilalui. Puding oreo dan puding jeruk mewarnai kulkas kami. Alhamdulillah, membuat saya istirahat sejenak dari membuat camilan untuk anak-anak. Lucunya, bukan skenario yang disengaja oleh kami, tapi pemenang challenge-nya bergiliran. Yah, mungkin diatur oleh-Nya, gantian giliran masak yang lebih enaknya, biar sama-sama pernah merasakan jadi juara. 

Alhamdulillah, salah satu hikmah pandemi bagi kami adalah lahirnya koki-koki kecil ini di rumah. Semoga kelak menjadi istri binangkit yang bisa membahagiakan keluarga dengan masakan-masakannya.

22.3.21

Ketika Mamah Mager Bergerak

Kesehatan menjadi hal yang terasa sangat berharga terutama di masa pandemi seperti sekarang ini. Banyak hal yang dilakukan demi menjaganya. Masker dan hand sanitizer menjadi barang wajib ketika keluar rumah. Stok sabun cuci tangan menjadi lebih cepat habis dari sebelumnya. Berjemur mulai menjadi agenda rutin banyak orang. Minuman herbal yang konon katanya meningkatkan imunitas pun mulai tenar, mulai dari jamu,  wedang empon-empon,  sampai madu hangat ditambah perasan lemon.

Semangat berolahraga masyarakat pun meningkat. Terbukti dengan naiknya harga sepeda di masa awal pandemi karena permintaan yang melonjak.

Sebagai anggota mamah mager alias malas gerak, berolahraga merupakan tantangan terbesar bagi saya. Rasanya kerjaan domestik di rumah saja sudah membuat lelah. Sampai akhirnya, suami berinisiatif membelikan sepeda untuk istrinya.

Ditambah,  akhir tahun lalu komunitas Mamah Gajah Berlari (MGB)  membuat challenge untuk bergerak minimal empat jam dalam seminggu. Setiap pekannya, panitia membuat report pencapaian dari para pesertanya. Ada peringkat dan ada pula hadiah yang akan diundi untuk peserta yang berhasil menyelesaikan tantangan. Meski mager, saya berbakat ambisius seperti mamah gajah pada umumnya ... hahaha. Jadilah ikut tantangan tersebut. 

Alhamdulillah, akhirnya berubah status juga menjadi mamah ager (agak gerak).  Sampai berjalan untuk membeli cabai ke warung saja sengaja memilih rute yang memutar supaya jauh. Tak lupa,  mengaktifkan aplikasi strava agar terekam pergerakannya ... hahaha.

Saat ini,  alhamdulillah, saya mulai terbiasa berolahraga. Badan pun terasa lebih prima. Jika tidak bisa keluar rumah karena harus menjaga anak-anak, saya memilih menggunakan video dari youtube untuk panduan berolahraga di rumah.  Kanal Walk With Leslie menjadi salah satu favorit. Selain karena gerakannya yang mudah,  pakaian yang digunakannya pun cukup sopan sehingga aman jika terlihat anak-anak yang biasanya ikut ngerecokin ibunya.

Saya pun mulai suka bersepeda. Salah satu motivasinya adalah rasa bersalah kalau sepeda, hadiah dari suami, berujung terbengkalai. Terkadang bersama suami,  kami menjadwalkan bersepeda sebagai salah satu agenda berpacaran. Tentunya ketika anak-anak ada yang bisa menjaga di rumah. Ini juga semakin memotivasi saya. Setelah beranak tiga,  semakin sulit rasanya punya waktu berduaan.

Bersepeda di hari ulang tahun pernikahan.
Judulnya anniversary ride ke tempat akad.

Dua bulan ini,  kami tinggal di Indramayu untuk menemani suami yang sedang bekerja di kota mangga. Di sini,  agenda bersepeda pun menjadi agenda keluarga. Semua diboyong,  kak!  Gimana donk,  enggak ada yang bisa jadi tempat menitipkan anak di rantau mah ... hahaha. 

 konvoi

Tentu saja semakin menyenangkan bersepedanya. Jalanan Indramayu pun tak seramai di Bandung, sehingga kami berani untuk membawa anak-anak bersepeda keluar komplek perumahan. Terlebih tak jauh dari rumah kami ada pantai yang bisa dijadikan destinasi bersepeda. Anak-anak tentu senang sekali karena sudah lama tidak piknik. 


hidden gem di tengah pemukiman warga




Kami selalu berusaha sepagi mungkin sudah sampai di pantai supaya belum ramai. Setelah puas bermain air,  kami langsung pulang. Iya,  basah-basahan sambil bersepeda. Mandinya di rumah saja. Alhamdulillah, jam sembilan di Indramayu itu terasa seperti jam sebelas. Kurang lebih 20 menit perjalanan ke rumah dengan baju basah tetap terasa berjemur, tidak kedinginan, sehingga meminimalisir kemungkinan masuk angin ... hihihi. 

Salah satu cita-cita kami ketika pandemi usai nanti adalah bersepeda di dalam kampus ITB.  Sudah terbayang serunya bersepeda di jalanan kampus yang rindang dengan pepohonan, sambil bernostalgia dan bercerita pada anak-anak tentang masa-masa remaja ibu dan abinya. 

Semoga bisa segera terlaksana. 

Matematika Kehidupan

Saya pernah bertanya-tanya, apa kesukaan kita pada sesuatu hal itu bisa bersifat genetik, ya?  

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, saya suka sekali pelajaran matematika. Konon, papah saya pun demikian. Beliau rajin bercerita tentang bagaimana nilai-nilainya dulu di pelajaran berhitung ini nyaris selalu sempurna. Beliau pun terjun langsung mengajari putra-putrinya ketika itu menyangkut pelajaran matematika.  Namun,  untuk pelajaran yang berkaitan dengan hafalan, beliau malah sedikit acuh. 

Eh ... atau sebenarnya kesukaan saya pada matematika ini adalah hasil doktrinisasi dari beliau juga, ya? Hahaha ... Bisa jadi. 

Alhamdulillah, nilai matematika saya di sekolah pun tidak mengecewakan, cenderung membanggakan. Ini berlanjut sampai ketika saya duduk di bangku SMA. Oleh karena itu, ketika tiba waktunya memilih jurusan di dunia perkuliahan, matematika menjadi yang pertama terlintas di pikiran.

Seorang teman sempat berkata, "kamu mah milih kuliah teknik juga bisa masuk atuh, insya Allah.",  kemudian saya bergidik sendiri mendengar kata 'teknik'. Rasanya kata itu dekat sekali dengan fisika,  pelajaran yang paling tidak saya suka. Namun, keinginan masuk Institut Teknologi Bandung begitu kuat, jadi ya sudah, pilih matematika saja.

Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) pun dimulai. Saya mengerjakan soal-soal matematika dasar dengan penuh semangat. Berharap menjadi ladang nilai yang membantu poin kelulusan saya nanti. Setelah ujian, saya mencocokkan jawabannya via radio yang bekerja sama dengan bimbingan belajar. Ah, sayang sekali, ternyata salah sedikit matematika dasarnya, malah jawaban fisika saya yang betul semua. Wah, kok bisa?  Katanya enggak suka? Yah, karena saya hanya menjawab tiga soal dan ketiganya benar semua, alhamdulillah ... hahaha.

Ada sebuah petuah bijak dari guru bimbingan belajar saya ketika itu, "kalau kamu kesulitan di pelajaran tertentu, kerjakan saja minimal tiga soal tapi yakin betul semuanya. Insya Allah tetap lulus spmb-nya."  
Alhamdulillah, ternyata petuahnya benar. Ketika pengumuman SPMB terbit, saya lulus, pemirsa! Akhirnya, jadi anak ITB juga. Di hari itu, saya pun pergi ke sekolah (SMA) dengan bangga. 

Di hari pengumuman SPMB, tradisi sekolah kami memang memajang spanduk berisi daftar nama lulusan beserta tempat kuliahnya di dinding sekolah. Karena termasuk sekolah favorit, hampir 70% siswanya lolos seleksi nasional. Sisanya tetap banyak yang lulus di perguruan tinggi swasta ternama.

Ada seorang teman yang bertanya hari itu, "masuk mana, gun?"
"matematika ITB."
"oh, pilihan dua yaa"
"eh, enggak ko, pilihan pertama ... " jawab saya sambil berlalu. Sang teman pun tersenyum kaku. Beginilah nasib diterima di jurusan yang kurang bergengsi ... hihihi. Namun, awkward moment tadi tetap tidak mengurangi kebahagiaan saya di hari bersejarah itu.

Hari - hari di kampus pun dimulai. Alhamdulillah, masa TPB dilalui dengan cukup lancar. Setelah itu,  saya pun bersiap masuk ke perkuliahan di jurusan.

Duh, apa-apaan ini! Matematika perkuliahan kok ternyata beda banget dengan matematika sekolah. Mari kita sebut nama-nama mata kuliahnya : Aljabar Linier,  Kalkulus Peubah Banyak, Pengantar Persamaan Diferensial, Matematika Diskrit,  Analisis Kompleks ...  Ooh, mengapa sesuatu yang sudah kompleks harus dianalisis segala?

Saya mulai merasa salah jurusan saat itu. Namun, mau bagaimana lagi kan? Saya hanya bisa meratapi dan mencukupkan diri dengan nilai-nilai yang berupa rantai karbon.

Sampai akhirnya di tingkat empat, saya menemukan satu mata kuliah pilihan yang pada akhirnya menjadi salah satu penentu jalan hidup setelah lulus kuliah nanti,  Pengajaran Matematika Sekolah. 

Ya, ini gue banget! Matematika sekolah! Kuliah yang seru. Membangkitkan kembali jiwa ke-matematika-an saya yang sempat meluruh diterjang badai kalkulus. Ujian akhir dari kuliah PMS ini adalah praktek langsung mengajar matematika di sekolah. Satu hari menjadi ibu guru. Wah, seru! 

Hari itu, saya mengajar di almamater tercinta, SMPN 1 Cimahi. Awalnya hanya akan mengajar di satu kelas, tapi akhirnya diberdayakan oleh guru saya dulu untuk mengajar di tiga kelas ... hahaha.  Sukses membuat suara serak. Sukses pula membuat hati mantap, setelah lulus nanti, mau jadi guru

wah, ternyata saya masih menyimpan foto tahun 2006.
Ketika ujian praktek mata kuliah Pengajaran Matematika Sekolah


Alhamdulillah, cita-citanya tercapai. Lulus dari ITB, tak lama kemudian saya pun mengajar di salah satu sekolah swasta islam di Cimahi. Saya menjadi guru matematika di sekolah tersebut selama 2,5 tahun sampai akhirnya resign karena menikah dan merantau bersama suami tercinta. 

Sampai saat ini, menjadi guru masih merupakan salah satu pengalaman yang paling menyenangkan dalam hidup. Sebagian memori bersama murid-murid, saya abadikan juga di blog, seperti ini, ini, ini dan ini. Membacanya masih sering membuat saya tertawa, sama seperti dulu ketika saya tertawa saat diheureuyan oleh salah seorang murid untuk tidak membeli siomay di Jakarta. 

"Emang kenapa, A, kok gak boleh beli siomay di Jakarta?" tanya saya yang kebetulan saat itu memang sedang jajan siomay di jam istirahat. 

"Jangan, Bu. Soalnya,  JAUH! " jawabnya.

Hahaha. KZL! 

Terkadang, kehidupan itu memang seperti matematika, ya. Perlu melalui banyak tahapan dulu sampai akhirnya menemukan jawaban yang paling tepat. Sempat terjebak dan merasa salah jurusan, pada akhirnya saya tetap bersyukur melewati semuanya karena akhirnya saya menjadi tahu apa yang saya mau.

 Alhamdulillah 'Ala Kulli Hal.

***

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog di bulan Maret 2021. Tantangannya adalah menuliskan tentang alasan mengapa memilih kuliah di jurusan masing-masing. Alhamdulillah, jadi sedikit bernostalgia dan membuat hati hangat, terimakasih MGN! 


15.3.21

Ketika Abi Pulang Kerja

Setelah menikah dan beralih profesi menjadi ibu rumah tangga, ada satu waktu yang paling saya tunggu di setiap harinya, kecuali weekend. Biasanya waktu yang ditunggu itu menjelang magrib, tetapi terkadang dapat bonus menjadi malam hari.  Meski judulnya bonus,  rasanya menyebalkan karena jadi makin lama sendirian.  Ya, betul. Waktu yang ditunggu itu adalah ketika suami pulang kerja.

Ketika beliau pulang, saya akhirnya ada teman untuk mengobrol. Saya bisa bercerita hari ini ngapain aja kemudian bisa pamer dan menyantap bersama masakan yang telah saya buat dengan sepenuh hati untuk beliau. 

Setelah punya anak, ternyata terjadi persaingan. Biasanya yang dipeluk duluan adalah anaknya, istrinya belakangan ... hahaha. Namun, sebenarnya saya happy aja karena akhirnya partner mengasuh datang juga. 

Persaingan makin ketat ketika anaknya menjadi dua. Baru terdengar suara motornya saja, dua bocah sudah berhamburan ke pintu sambil berteriak, "Abiii ... ". Setelah itu, mereka akan berebutan minta digendong, bahkan ketika suami belum sempat menyimpan tasnya. 

Ketika akhirnya anaknya menjadi tiga, Ibu harap bersabar ... hahaha. (Udahlah buat teh manis aja dulu di dapur buat juragan.)

foto tahun 2014
 ketika dua bocah berebutan minta digendong

Setelah pandemi terjadi di Indonesia, ritual menyambut Abi ketika pulang kerja ini sedikit berubah. Kali ini, kami tidak bisa langsung mencium tangan dan memeluknya. Ada protokol kesehatan yang harus dijalankan. Semua peralatan yang dibawa disemprot terlebih dahulu dengan disinfektan. Setelah itu, Abi pun harus membersihkan badannya dulu sebelum akhirnya bisa bercengkrama dengan orang rumah. 

Repot? Sedikit. Namun, pekerjaan suami yang menuntut keluar rumah dan bertemu banyak orang membuat hal ini harus dijalankan.

Alhamdulillah, anak-anak bisa bersabar. Malah seringkali, mereka yang memastikan semprotan disinfektan ada di depan pintu rumah. Berulang kali juga, mereka memastikan saya sudah menyiapkan baju ganti untuk abinya di kamar mandi.

Ritual bersorak memanggil Abi saat beliau sampai di depan rumah tetap ada sih.  Namun, kali ini berjarak. Lucunya, terkadang dengan masih menjaga jarak, anak-anak ini sudah tak sabar untuk bercerita tentang segala macam. Sekali waktu, ada anak kecil yang tetap mengajak ngobrol abinya dari balik pintu kamar mandi ... hahaha. Yah, beginilah nasib lelaki yang memiliki empat wanita di rumahnya.  Harus bersabar dengan 20.000 kata dikalikan empat yang harus dikeluarkan oleh kami.


sabar menanti

kalau ini, ketika abi pulang bersepeda


Di balik segala kerepotannya setiap suami baru saja pulang ke rumah setelah beraktivitas di luar, kami bersyukur beliau masih diberikan kesehatan serta kemudahan dalam mencari rejeki untuk keluarga.

Semoga kita semua pun sehat selalu dan pandemi ini bisa segera berlalu. 

8.3.21

this too shall pass

Ada satu momen kehidupan yang tak pernah saya lupakan di tahun 2015. Ketika itu, saya mengalami penurunan berat badan yang cukup drastis disertai gejala batuk yang tak kunjung sembuh. Akhirnya setelah melalui serangkaian pemeriksaan medis,  saya pun divonis menderita penyakit TBC.

Rasanya campur aduk sekali saat itu. Lega karena akhirnya penyakitnya diketahui, sekaligus khawatir karena ternyata penyakitnya menular.

Namun, satu hal yang paling membuat patah hati adalah kenyataan bahwa suami dan anak-anak sebagai orang terdekat harus langsung dites mantoux saat itu juga untuk mengetahui adanya penularan atau tidak. Kata dokter, lebih cepat lebih baik. 

Suami berkata suntikannya sakit karena di bawah kulit. Anak-anak tanpa sounding terlebih dahulu harus ikut disuntik pula. Sakit,  kaget, dan takut bercampur jadi satu. Tangisan mereka membahana di rumah sakit saat itu. Saya hanya bisa memeluk pilu. 

Duh...  Maaf ya,  Nak!  Gara - gara ibu... . 

Setelahnya, jadi 72 jam terlama dalam hidup. Menanti hari hasil tes diperiksa oleh dokter dalam cemas. Setiap saat melihat bekas suntikan mereka membesar atau tidak. 

Penyesalan pun menghantui diri. Berkali-kali bertanya dalam hati, kenapa sih udah tahu batuk kok enggak pakai masker? Kenapa sih masih suka pakai satu alat makan? Kenapa sih kok malas untuk segera periksa ke dokter? Dan beribu kenapa yang lainnya. 

Maka hari itu, ketika akhirnya dokter menyatakan suami dan anak-anak tidak tertular, saya merasa luar biasa lega.  Alhamdulillah. 

Iya, menjadi penyebab dari penderitaan seseorang itu ternyata sungguh tidak nyaman. Apalagi jika orang tersebut adalah yang dicinta. Hal ini mungkin bisa dijadikan sebuah motivasi di tengah ujian pandemi kali ini. 

Satu tahun pandemi tentu membuat lelah lahir dan batin untuk semua. Pembatasan ruang gerak, kehilangan sesuatu atau seseorang yang berharga, menghilangnya kesempatan, dan mungkin banyak ujian lainnya.

Kebiasaan baru yang wajib dibiasakan juga mulai terasa melelahkan. Sama kok, saya juga mulai bosan mencuci semua barang setiap habis belanja, mulai pening dengan seabrek rutinitas sekolah daring,  dan mulai lelah dengan segala protokol kesehatan.

Apalagi mulai banyak pula yang abai. Nongkrong di kafe mulai biasa. Kumpul-kumpul tak lagi virtual. Masker cuma jadi pajangan. Padahal,  pandemi kan belum usai.

Jadi, saat lelah dengan segala keribetan dalam menjaga diri di tengah pandemi ini menghampiri,  melihat orang-orang tersayang mungkin bisa dijadikan motivasi. Sanggupkah kita menjadi penyebab mereka menderita saat kita abai dengan segala protokol kesehatan? Sanggupkah kita menanggung penyesalan saat menjadi sumber penyakit di tengah keluarga?

This is not over yet.  Setahun memang sudah berlalu dan kita bisa melaluinya,  Alhamdulillah. Namun, bertahanlah sedikit lagi. Tetap taat, tetap sehat. Jaga imun, jaga iman. This too shall pass, insya allah. Ingatlah, Allah bersama hamba-hambaNya yang sabar!