24.5.21

Bukan Keluarga Cemara, Meski Punya Becak

Suatu hari di tahun 2014, ketika kami masih tinggal di Surabaya, suami sempat berkata,  "Beli sepeda mahal-mahal, yang bisa dibonceng cuma satu. Mending beli becak sekalian, ya, bisa kebawa semua." Waktu itu,  saya iya-iya-in saja. Beliau memang hobi mengeluarkan ide-ide kreatif. Namun, saya tidak menyangka ternyata urusan becak ini beneran dieksekusi.

Beberapa hari setelahnya, becak bekas yang dijual pemiliknya karena sudah beralih ke becak motor parkir manis di depan rumah kami. Becak yang berhasil membuat anak-anak terpukau.  "Ini beneran becaknya teteh? Becak kita?" tanya si sulung dengan takjub. Begitulah bapakmu, Nak, sering out of the box, hahaha. 

Pertemuan pertama

Tiga minggu setelahnya jadi momen penuh keseruan buat kami. Kegiatan harian diwarnai dengan mencicil mendandani becak. Mulai dari mengelas dan mengecatnya, memilih kain untuk tudungnya, mencari tukang sol sepatu yang mempunyai jarum besar untuk menjahit tudung tadi,  sampai menyervis sang becak ke bengkel agar lebih nyaman dipakai.

Mengecat bersama


Akhirnya sang becak pun bisa digunakan. Tujuan perjalanan pertama kami adalah Indomaret depan komplek untuk membeli sampo bergambar Minnie Mouse dengan hasil tabungan pertama Teteh Thifa yang saat itu berusia tiga tahun. Sungguh perjalanan yang memorable.

Setelah itu, sang becak pun mewarnai hari-hari kami dan menemani ke banyak tempat. Ia mengantarkan kami ngabuburit keliling komplek, membeli sayur ke pasar, mencari sarapan ke McDonald, sampai belanja bulanan ke Lotte Mart. Ternyata menyenangkan juga memakai becak karena tidak perlu bayar parkir dan dapat bonus semriwing angin, hahaha. 

Para tetangga biasanya menyapa sambil terpukau ketika kami lewat. Mereka ikut tersenyum melihat anak-anak yang girang digowesin Abinya. Para tukang becak sekitar rumah pun sering melambaikan tangan. Tak lupa, mereka juga sering memberikan tips untuk merawat si kendaraan roda tiga ini.

Bagasinya di depan, hahaha.

Becak ini pun selalu mengikuti kepindahan kami ke berbagai kota. Becak Jawa timur ini mengembara sampai ke Jawa Barat. Ia ikut kami pindah ke Bandung dan Indramayu. Setiap kali pindahan, para tukang angkut takjub karena ada becak yang ikut serta masuk truk.


Sang becak mampir ke Sport Jabar Arcamanik



Di Indramayu, penumpangnya nambah satu


Pernah satu kali menjelang kepindahan kami dari Indramayu kembali ke Bandung, saya memberi ide untuk menjual sang becak. Suami menolak dengan tegas, "Enggak ah, mau dibawa lagi. Nanti kita cari rumah yang bisa buat parkir becak juga." Bahkan setelah itu, sang becak pun di- make over oleh beliau, menjadi lebih cantik dengan cat merah muda dan tudung baru berbahan kulit sintetis.

penampilan baru

Terkadang, ide-ide kreatif beliau memang mengejutkan kami. Namun, itu juga yang membuat hidup kami menjadi lebih seru dan berwarna. Dan ternyata beliau pun sering menyimpan alasan yang manis di baliknya, termasuk soal becak ini. 

Di salah satu momen pillow talk kami, beliau sempat berkata, "Abi mah beli becak teh pengen ngasih kenangan manis aja sih buat anak-anak di masa kecilnya. Semoga nanti mereka inget terus, ya." 

Ah, hatiku pun menghangat mendengarnya.
Terima kasih, Abi!


1 komentar:

  1. Sebenarnya konsep becak ini juga ada mirip gitu Teh, sepeda belakangnya ada wadah duduk tapi anak sih. Kalau di indo ini lucu juga. Seru hahaha

    BalasHapus