Postingan

Semangat Kembali (Mengantar) ke Sekolah

Gambar
Tahun ajaran baru ini, anak sekolah di rumah kami bertambah satu. Si bungsu baru saja masuk TK, sedangkan dua kakaknya sekarang duduk di kelas empat dan lima SD. Alhamdulillah, grup Whatsapp ibu semakin ramai. Ada grup sekolah, grup kelas, grup kelompok tahfidz, dan tentu saja grup orang tua murid. Pusing, Bu? Lumayaaan, hahaha. Qodarulloh, di pekan pertama kembali ke sekolah, rumah kami sedang dalam perbaikan. Jadilah, kami harus mengungsi sementara ke rumah orang tua saya, nenek dan kakeknya anak-anak. Perjalanan ke sekolah yang biasanya hanya menghabiskan waktu 10 - 15 menit, kali ini harus ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam. Ibu supir membayangkannya saja sudah cukup lelah, tapi mau bagaimana lagi, harus tetap dilalui.  Sejak malam sebelum hari pertama sekolah tiba, kami sudah bersiap-siap. Seragam, peralatan sekolah, kaos kaki, dan sepatu sudah tinggal pakai. Anak-anak pun alhamdulillah tidur lebih cepat. Mereka sangat bersemangat menyambut hari pertama sekolah. Renc...

Menjadi Penulis Buku Anak

Gambar
Saya masih ingat saat kelas lima SD dulu, di awal tahun ajaran baru, wali kelas kami memberi tugas untuk membuat karangan tentang kegiatan yang dilakukan saat liburan sekolah. Saya bercerita tentang liburan di rumah Nenek. (Sungguh judul cerita sejuta murid ya?😆) Entah apa yang saya tulis saat itu, tapi ternyata menghabiskan dua lembar kertas polio. Selepasnya saya merasa puas, happy dan tentu saja pegal 😂 Rasanya itu pertama kali saya tahu :  i love writing .  Namun, kegiatan menulis ini rupanya hanya menjadi selingan, tak lanjut terasah. Saat itu, secara akademis nilai matematika saya lebih menonjol. Akhirnya saat berkuliah pun, saya memilih jurusan matematika. Dunia menulis terlupakan.  Kembali Menulis Lewat Blog Tahun 2005, saya mulai akrab dengan internet, biasanya nebeng di labkom jurusan, hihi. Media sosial mulai banyak bermunculan. Blog pun mulai digandrungi banyak peminat, termasuk saya. Si tukang bercerita ini mulai menuliskan kembali 'caprukan'nya di blog . ...

Sama Susahnya

Percakapan ini terjadi pada bulan Ramadan dua tahun yang lalu. Teteh : "Bu, tahu enggak yang aku enggak suka dari puasa tuh apa?" Ibu : "Apa?" Teteh : "Bangun sahurnya. Itu tuh pas lagi enak-enaknya tidur terus dibangunin. Susah banget buka matanya." Ibu : "Tahu enggak kenapa sahur dan puasa itu pahalanya besar?  Ya karena susah , kalau gampang dapatnya bukan pahala, tapi mainan Kind*rjoy." Teteh : "Itu juga susah , soalnya ibu enggak pernah mau beliin, harus ngumpulin uang sendiri dulu." Ketika itu, saya hanya bisa tergelak, menertawakan komentar polosnya dan kesalahan saya dalam mengambil contoh. Ibu-ibu pasti paham. Siapa yang juga sering menolak permintaan bocah untuk membeli jajanan coklat berhadiah seukuran telur yang rajin nongkrong di kasir mini market ini? Rasanya wajar untuk menjadi perhitungan. Dengan harga yang cukup mahal, kita hanya akan mendapatkan coklat berukuran setengah telur dan mainan kecil yang tidak diketahui b...

Tidak Semua Anak Harus Hobi Membaca

Gambar
Udah kontroversial belum judul postingannya?😆 Tenang, Gais... jangan julid dulu!  Tentu saja saya termasuk yang mendukung gerakan literasi untuk menumbuhkan minat baca anak sejak dini. Yes,  I do!  Raising A Reader Buku adalah salah satu yang saya perkenalkan kepada anak-anak sejak mereka masih bayi. Membeli buku anak hampir menjadi sebuah hobi, baik itu buku baru atau pun bekas. Ada satu masa, saya sampai harus menahan diri untuk tidak membeli lagi karena rak buku di rumah sudah terlalu penuh. Sampai akhirnya, kami hibahkan beberapa buku. ( lalu beli lagi...  #eh)   Terbukti ketika pindahan (yang mana sudah sekian kali terjadi) dus koleksi buku kami termasuk yang paling banyak jumlahnya dibandingkan dus lainnya, bahkan mengalahkan dus peralatan dapur.  Alhamdulillah enggak cuma doyan belinya, saya juga menikmati momen membacakan buku untuk anak-anak. Meskipun seringkali ngantuk menyerang saat mereka sedang asyik menyimak, lalu sesi membaca pun berujung, "...

Candy Crush Mania

Gambar
Dalam 24 jam, waktu untuk diri sendiri rasanya baru bisa saya dapatkan di malam hari, saat anak-anak sudah tertidur lelap.  Walau kadang badan terasa sudah lelah, entah mengapa rasanya kok sayang kalau ikutan tidur juga. Waktu yang rasanya terlalu berharga untuk dilewatkan hanya dengan tidur saja, my-me-time .  Akhirnya pilihan kegiatan yang saya pilih hampir setiap malam adalah yang menghibur dan bisa dilakukan sambil rebahan, misalnya scrolling instagram, ngetik blog kaya sekarang, atau nonton drama korea. Dan satu lagi aktivitas favorit yang paling sering dilakukan saat me time adalah main Candy Crush! Awal mulanya Permainan Candy Crush ini mulai saya mainkan sekitar tahun 2018. Cukup konsisten sampai akhirnya di tahun keempat ini saya sudah berada di level 3854. Coba konsistennya di hal laen yang lebih berfaedah ya 😅😂 Iya, ternyata bisa sampai ribuan gini levelnya, ngalahin lapisan wafer tango yang ratusan. Bahkan dosen saya pernah memposting di...

Tiga Resep Mudah dan Murah Untuk Akhir Bulan

Gambar
Saya suka memasak, walau sebetulnya enggak jago-jago amat. Menu yang saya masak tentu saja yang mudah , mengingat keahlian yang biasa saja dan tentu saja waktu di dapur yang sebisa mungkin tidak terlalu lama karena kerjaan rumah lainnya menanti untuk dikerjakan. Melanjutkan tulisan sebelumnya tentang tips kewarasan untuk ibu rumah tangga, berikut ini saya mau berbagi juga resep masakan yang mudah dibuat dan murah biayanya sehingga cocok untuk dijadikan menu akhir bulan. Semoga bisa bermanfaat untuk para ibu di dapur rumahnya.  1 . Nasi Liwet Ayam Krispi Menu ini sempat viral di dunia maya. Ayam krispinya menggunakan salah satu merek ternama. Saya yang kepo , akhirnya mencoba membuatnya juga. Namun, ayamnya menggunakan merek lokal saja,  hihihi . Kan judulnya juga menu akhir bulan. Dua buah ayam saja bisa disajikan untuk 4-5 orang.  Bahan : - 3 cup nasi - 2 buah ayam krispi - 2 siung bawang putih - serai dan daun salam secukupnya - kaldu bubuk Cara membuat : Masak n...

Si Pemuda Panada

Gambar
Mendung menggelayut di langit Bandung pagi ini. Angin dingin berhembus melewati sela-sela amfiteater menerpaku yang sedang merasa kesepian. Aku, seperti biasanya, berdiri tegak di bagian barat kampus ini. Sejak dulu, tak berubah. Hanya suasananya yang kini berbeda.  Dulu, hari-hariku selalu ramai, diwarnai langkah-langkah kaki menuju tempat kuliah, celotehan para mahasiswa, suara dosen mengajar, keluhan korban yang mendapat kuliah di lantai tiga pada jam tujuh pagi, suara kepanikan seseorang yang tersesat salah belok menuju kelas tujuannya, ditambah lagi suara ibu kantin  yang sedang marah-marah karena ada mahasiswa yang salah menempatkan uang bukan di baki pembayaran untuk membayar nasi hainan terenak sekampus raya. Namun kini, sepi sunyi saja yang terdengar di sini. Hanya ada ruangan yang kosong, lantai yang berdebu, dan dinding dingin yang mulai melapuk. Puluhan purnama kulewati dalam kesendirian. Semuanya mendadak hilang seperti ditelan bumi. Tak ada lagi kegiatan di ...